Pendapat Allport dalam membahas manusia.

  1. Pendapat Allport dalam membahas manusia

Pada tahun 1966, Allport mengemukakan pandangan epistemologis untuk meneliti kepribadian yang disebutnya ‘realisme heuristik’. Pandangan ini menerima asumsi umum, “bahwa manusia adalah makhluk yang real, bahwa setiap manusia memiliki suatu organisasi neuropsikis yang real, dan bahwa tugas kita ialah memahami organisasi ini sebaik mungkin”. Gambaran kodrat manusia yang dikemukakan Allport adalah positif, penuh harapan, dan menyanjung-nyanjung.

Allport tidak percaya bahwa orang-orang yang matang dan sehat dikontrol dan dikuasai oleh kekuatan-kekuatan tak sadar, kekuatan yang tak dapat dilihat dan tak dapat dipengaruhi. Orang-orang yang sehat tidak didorong oleh konflik-konflik tak sadar, dan tingkah laku mereka tidak ditentukan oleh nafsu-nafsu (yang dikendalikan oleh setan-setan) yang jauh.

Allport percaya bahwa kekuatan-kekuatan tak sadar itu merupakan pengaruh-pengaruh yang penting pada tingkah laku orang-orang dewasa yang neurotis. Akan tetapi individu  yang sehat yang berfungsi pada tingkat rasional dan sadar, tentu menyadari sepenuhnya kekuatan-kekuatan yang membimbing mereka dan dapat mengontrol kekuatan-kekuatan itu juga.

2. Perkembangan Proprium sebagai dasar perkembangan kepribadian yang sehat

Proprium (self atau diri) itu berkembang dari masa bayi sampai masa adolesensi melalui tujuh tingkat ‘diri’. Apabila semua segi perkembangan telah muncul sepenuhnya, maka segi-segi tersebut dipersatukan dalam satu konsep proprium. Jadi, proprium adalah susunan dari tujuh tingkat ‘diri’ ini. Muculnya proprium merupakan suatu prasyarat untuk suatu kebribadian yang sehat.

Tujuh tingkat ‘diri’ yang dimaksiud oleh Allport meliputi:

1. Diri jasmaniah

Pada saat bayi dilahirkan, bayi tidak dapat membedakan antara diri (‘saya’) dan dunia sekitarnya. Kemudian berangsur-angsur dari hari ke hari, dengan makin bertambahnya kompleksnya belajar dan pengalaman-pengalaman perceptual, maka berkembanglah suatu perbedaan yang kabur antara sesuatu yang ada ‘dalam saya’ dan hal-hal lain ‘diluar saya’.

Ketika bayi menyentuh (kulit ibunya), melihat (selimut dan dot susunya), dan mendengar (suara ayahnya), maka perbedaan itu makin lebih jelas. Diri jasmaniah muncul kira-kira usia 15 bulan. Kesadaran akan ‘saya jasmaniah’ merupakan langkah pertama ke arah tercapainya seluruh diri. Allport menyebutnya “jangkar abadi untuk kesadaran diri kita”, meskipun masih jauh dari menjadi seluruh diri orang itu.

2. Identitas diri

Anak mulai sadar identitasnya yang berlangsung terus sebagai seorang yang terpisah. Anak mempelajari namanya, menyadari bahwa bayangan dalam cermin hari ini adalah bayangan dari orang yang sama seperti yang dilihatnya kemarin, dan percaya bahwa perasaan tentang ‘saya’ tetap bertahan dalam menghadapi pengalaman-pengalaman yang berubah-ubah.

Allport berpendapat segi yang sangat penting dalam identitas diri adalah nama orang. Nama itu menjadi lambang dari kehidupan seseorang yang mengenal dirinya dan membedakannya dari orang lain.

3. Harga diri

Hal ini menyangkut perasaan bangga dari anak sebagai suatu hasil dari belajar mengerjakan benda-benda atau usahanya sendiri. Pada tingkat ini anak ingin membuat benda-benda, menyelidiki dan memuaskan perasaan ingin tahunya tentang lingkungan, memanipulasi dan mengubah lingkungan itu.

Anak yang berusia 2 tahun bersifat ingin tahu dan agresif, dapat menjadi sangan destruktif karna dorongan untuk memanipulasi dan menyelidiki ini menampakkan kuasanya, dan anak kelihatan bertingkah laku negative, yaitu kelihatannya selalu menentang segala sesuatu yang dikehendaki orang tua untuk dilakukannya.

Allport percaya bahwa hal ini merupakan suatu tingkat perkembangan yang menentukan. Apabila orang tua menghalangi kebutuhan anak untuk menyelidiki, maka perasaan harga diri yang timbul dapat dirusakkan. Akibatnya akan timbul perasaan dihina dan marah.

4. Perluasan diri

Perluasan diri terjadi mulai sekitar usia 4 tahun. Anak sudah mulai menyadari orang-orang lain dan benda-benda dalam lingkungannya, mulai memahami fakta bahwa beberapa orang diantaranya adalah milik anak tersebut. Contonya: anak berbicara tentang ‘rumahku’ atau ‘sekolahku’. Anak mempelajari arti dan nilai dari milik seperti terungkap dalam kata ‘kepunyaanku’.

5. Gambaran diri

Hal ini menunjukkan bagaiman anak melihat dirinya dan pendapatnya tentang dirinya. Gambaran ini berkembang dari interaksi antara anak dengan orang tua. Lewat pengasuhan sehari-hari yang didalamnya ada pujian dan hukuman, anak belajar bahwa orang tuanya mengharapkannya supaya menampilkan tingkah laku tertentu dan menjauhi tingkahlaku-tingkahlaku lain.

Orang tua dapat menyebut anak itu ‘baik’ sebagai reaksi terhadap beberapa tingkah laku,    dan ‘buruk’ sebagai reaksi terhadap beberapa tingkah laku lain. Dengan mempelajari harapan-harapan orang tua, anak mengembangkan dasar untuk suatu perasaan tanggung jawab moral serta untuk perumusan tentang tujuan-tujuan dan intense-intensi.

6. Diri sebagai pelaku rasioanal

Setelah anak mulai sekolah, diri sebagai pelaku rasioanal mulai timbul. Aturan-aturan dan harapan-harapan baru dipelajari dari guru-guru, teman-teman sekolah, atau teman sebaya di tempat tinggal.

Pada saat ini hal yang lebih penting ialah diberikannya aktivitas-aktivitas dan tantangan-tantangan intelektual. Oleh karenanya, anak-anak pada usia ini mulai mengikuti organisasi sekolah, seperti; OSIS (organisasi siswa intra sekolah), kelompok  diskusi, kelompok belajar, kelompok pengembangan minat dan hobi. Di sini anak belajar bahwa dia dapat memecahkan masalah-masalah dengan mengunakan proses-proses yang logis dan rasional.

7. Perjuangan proprium

Allport percaya bahwa masa adolesensi merupakan suatu masa yang sangat menentukan. Orang sibuk dalam mencari identitas diri, sangat berbeda dengan identitas diri pada usia 2 tahun. Pertanyaan “siapa saya?”, kemudian “ke mana saya akan melangkah?”, hingga “saya akan sekolah terus atau saya akan bekerja?” adalah  pertanyaan-pertanyaan yang penting. Karena didorong dan ditarik ke arah-arah berbeda oleh orang tua dan teman-teman sebaya, maka anak remaja itu mengadakan percobaan dengan peranan-peranan (termasuk menggunakan kedok untuk menutupi keasliannya), menguji gambaran diri, serta berusaha menemukan suatu kepribadian orang dewasa.

Segi yang sangat penting dari pencarian identitas adalah menetapkan definisi suatu tujuan hidup. Pentingnya pencarian ini adalah bagaimana seorang untuk pertama kalinya dia memperhatikan masa depan, menetapkan tujuan-tujuan hidup, dan melambungkan impian-impian jangka panjang. Bersamaan dengan ini ialah munculnya perkembangan daya dorong ke depan. Intensi-intensi, aspirasi-aspirasi, dan harapan-harapan orang itu mendorong kepribadian yang matang. Dalam pandangan Allport “Sasaran-sasaran yang menentukan” sangat penting membentuk kepribadian sehat.

3. Ciri-ciri kepribadian menurut Allport

Menurut Allport ada tujuh kriteria kematangan yang bisa teramati dari seseorang yang memiliki kepribadian sehat,yaitu :

1. Adanya perluasan perasaan diri

Ketika ‘diri’ berkembang, maka diri akan meluas menjangkau banyak orang dan benda. Mula-mula diri berpusat hanya pada individu, kemudian ketika lingkaran pengalaman bertumbuh maka diri bertambah luas meliputi nilai-nilai dan cita-cita yang abstrak. Ketika orang menjadi matang, dia mengembangkan perhatian-perhatian diluar ‘diri’. Akan tetapi, pertumbuhan itu tidak cukup hanya berinteraksi dengan sesuatu benda atau dengan seseorang diluar ‘diri’. Orang harus menjadi partisipan yang langsung dan penuh, orang harus meluaskan diri ‘ke dalam‘ aktivitas. Allport menamakan hal ini sebagai ”partisipan otentik yang dilakukan oleh orang dalam beberapa suasana yang penting dari usaha manusia”.

Dalam pandangan Allport, suatu aktivitas harus relevan dan penting bagi diri, harus berarti sesuatu bagi orang itu.  Contoh: anda mengerjakan suatu pekerjaan  karna anda percaya bahwa pekerjaan itu penting (dengan alasan: pekerjaan itu menantang kemampuan anda atau karena mengerjakan pekerjaan itu dengan baik membuat anda merasa puas)’ maka anda merupakan seorang partisipan yang otentik dalam pekerjaan itu.

2. Memiliki hubungan diri yang hangat dengan orang lain

Menurut Allport hubungan diri yang hangat dengan orang lain dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu; ‘kapasitas untuk keintiman’ dan ‘kapasitas untuk perasaan terharu’.

Tipe kehangatan pertama, orang yang sehat secara psikologis mampu memperlihatkan keintiman (cinta) terhadap orang tua, anak, teman kerja, dan patner secara setia. Hasil dari kapasitas keintiman adalah suatu perasaan perluasan diri yang berkembang baik.

Perbedaan antara hubungan cinta dari orang-orang neurotis dengan hubungan cinta dari orang-orang kepribadian sehat, yaitu; orang-orang neurotis harus menerima cinta jauh lebih banyak daripada kemampuan mereka untuk memberinya. Apabila mereka memberi cinta, maka cinta itu diberikan dengan syarat-syarat dan kewajiban-kewajiban yang tidak bersifat timbal balik. Sedangkan cinta dari orang-orang yang berkepribadian sehat adalah tanpa syarat, tidak melumpuhkan, dan tidak selalu terikat; lebih pada member sepenuh hati.

Tipe kehangatan kedua, adalah perasaan terharu, yaitu suatu pemahaman tentang kondisi dasar manusia dan perasaan kekeluargaan dengan semua bangsa. Orang yang sehat memiliki kapasitas untuk memahami kesakitan, penderitaan, ketakutan,dan kegagalan yang semua itu merupakan ciri kehidupan manusia. Empati timbul melalui ‘pengembangan rasa’ dan ‘perluasan imajinasi’ dari perasaan orang sendiri terhadap kemanusiaan pada umumnya.

Hasil dari kapasitas perasaan terharu adalah kepribadian yang matang akan dicerminkan oleh sikap sabar terhadap tingkah laku orang lain, dia tidak akan mencaci, mencela, mengadili atau menghukum kekeliruan orang; karna dia beranggapan bahwa hal yang keliru adalah manusiawi.

Orang yang sehat dapat menerima kelemahan manusia dan mengetahui bahwa dia memiliki kelemahan yang sama. Sedangkan orang yang neurotis tidak sabar dan tidak mampu memehami sifat universal dari pengalaman-pengalaman dasar manusia. Orang neurotis dalam kehidupan kesehariannya, lebih banyak diselimuti oleh kemurungan dan uring-uringan pada orang lain.

3. Terjaminnya keamanan emosional

Menurut Allport, keamanan emosional seseorang yang memiliki kepribadian sehat ditandai oleh tiga kualitas, yaitu; peneriman diri, menerima emosi-emosi manusia, sabar terhadap kekecewaan.

Kualitas yang pertama dan utama adalah adanya penerimaan diri. Kepribadian yang sehat mampu memerima semua segi dari ‘ adanya’ mereka, termasuk kelemahan dan kekurangan tanpa menyerah secara pasif pada kelemahan dan kekurangan tersebut. Orang-orang yang sehat mampu hidup dengan kondisi dirinya apa adanya dan menurut segi-segi lain dalam kodrat manusi, dengan sedikit konflik dalam diri mereka atau dengan masyarakat sekitar. Mereka berusaha bekerja sebaik mungkin dan dalam proses bekerjanya mereka berusaha memperbaiki dirinya.

Kualitas kedua adalah memiliki keamanan emosi, yaitu mampu manerima emosi-emosi manusia. Mereka bukan tawanan dari emosi-emosi, dan mereka juga tidak berusaha bersembunyi dari emosi-emosi itu. Kepribadian yang sehat mengontrol emosi mereka sehingga emosi tidak mengganggu aktivitas antarpribadi. Control ini bukan merupakan represi tetapi emosi diarahkan ke dalam saluran-saluran yang lebih konstruktif. Sebaliknya, orang-orang yang neurotis akan mudah menyerah pada emosi apa saja yang dominan pada saat itu. Mereka berkali-kali memperlihatkan kemarahan dan kebencian.

Kualitas ketiga adalah sabar terhadap kekecewaan. Hal ini menunjukkan bagaimana seseorng bereaksi terhadap tekanan dari kemauan-kemauan dan terhadap hambatan dari keinginan-keinginan. Orang-orang yang sehat dapat sabar menghadapi kemunduran. Mereka tidak menyerahkan diri pada kekecewaan, tetapi mampu memikirkan cara-cara yang berbeda, yang kurang menimbulkan kekecewaan untuk mencapai tujuan. Kekecewaan tidak dapat melumpuhkan kepribadian yang sehat, seperti yang kerapkali terjadi pada orang-orang neurotis.

4. Memiliki persepsi realitas

Orang-orang yang memiliki kepribadian sehat memandang dunia secara objektif. Jika mereka mencapai keberhasilan, itu sebuah kewajaran atas hasil kerja yang ditekuninya. Jika mereka mendapatkan kegagalan, itu sebuah pengalaman biasa-biasa saja yang tidak harus disesali. Mereka pantang menyalahkan ‘dunia luar’, dan mereka mampu menilai sukses atau gagal sebagai sesuatu yang wajar, yang objektif. Orang-orang yang sehat tidak perlu percaya bahwa orang lain atau situasi sekitarnya, semuanya jahat atau semuanya baik, menurut suatu prasangka pribadi terhadap realitas. Mereka menerima realitas sebagaimana adanya.

Sebaliknya orang-orang neurotis seringkali harus merubah realitas supaya membuatnya sesuai dengan keinginan, kebutuhan, dan ketakutan mereka sendiri. Orang-orang neurotis tidak percaya bahwa orang lain atau situasi disekitarnya itu beragam. Menurut mereka semuanya adalah ‘berbahaya’ dan ‘mengancam diri’, menurut suatu prasangka pribadi yang buruk. Mereka mengingkari realitas.

5. Memiliki keterampilan-keterampilan dan tugas-tugas

Allport menekankan pentingnya pekerjaan dan perlunya menenggelamkan diri sendiri di dalamnya. Keberhasilan dalam pekerjaan menunjukkan perkembangan keterampilan dan bakat tertentu. Tetapi tidaklah cukup hanya memiliki keterampilan yang relevan; kita harus menggunakan keterampilan itu secara ikhlas, antusias, melibatkan dan menempatkan diri sepenuhnya dalam pekerjaan kita.

Allport mengemukakan bahwa ada kemungkinan orang-orang yang memiliki keterampilan menjadi neurotis. Akan tetapi tidak mungkin menemukan orang-orang yang sehat dan matang yang tidak mengarahkan keterampilan mereka pada pekerjaan yang ditekuninya.

Dalam membahas kualitas kepribadian sehat yang memiliki keterampilan atas tugas ini. Allport sependapat dengan Harvey Cushing (seorang ahli bedah otak), yang menyatakan “satu-satunya cara untuk melangsungkan kehidupan adalah dengan menyelesaikan suatu tugas”. Menurut Allport, pekerjaan dan tanggung jawab dapat memberikan arti dan perasaan kontinuitas untuk hidup. Tidak mungkin seseorang yang mencapai kematangan dan kesehatan psikologis yang positif tanpa melakukan pekerjaan yang penting dan melakukannya dengan dedikasi, komitmen, dan keterampilan.

6. Memiliki pemahaman diri

Seseorang yang memiliki kepribadian sehat senantiasa dapat memahami ‘diri’. Siapa dirinya? Criteria ini sering kita dengar dari perkataan orang bijak, “kenalilah dirimu”, dan ini ternyata menjadi tugas yang sulit bagi individu yang belum matang.

Mengapa demikian? Karena ‘mengenali diri’ merupakan usaha untuk mengetahui secara objektif mulai pada awal kehidupan dan tidak akan pernah berhenti, tetapi ada kemungkinan mencapai suatu tingkat pemahaman diri (self-objectification) tertentu yang berguna dalam setiap usia. Kepribadian yang sehat mencapai suatu tinggat pemahaman diri yang lebih tinggi daripada orang-orang yang neurotis.

Orang yang memiliki suatu tingkat pemahaman diri (self objectification) yang tinggi atau wawasan diri tidak mungkin memproyeksikan kualitas pribadinya yang negative kepada orang lain. Orang itu akan menjadi ‘seperti hakim’ yang seksama terhadap orang lain, dan biasanya dia diterima dengan lebih baik oleh orang lain. Allport mengemukakan bahwa orng yang memiliki wawasan yang lebih baik adalah lebih cerdas daripada orang yang memiliki wawasan diri yang kurang.

Menurut Allport orang yang berkepribadian sehat terdapat suatu kolerasi yang tinggi antara tingkat wawasan ‘diri’nya dan perasaan humor, yakni tipe humor yang menyangkut persepsi tentang hal-hal yang aneh dan hal-hal yang mustahil, serta kemampuan untuk menertawakan diri sendiri. Namun Allport juga memberikan rambu-rambu, bahwa humor yang dimaksud tidaklah sembarang humor. Menurutnya, humor ini bukan humor komik kasar yang menyangkut seks dan agresi; tetapi lebih pada humor-humor cerdas yang mengajak orang berfikir lebih beda dari kelaziman yang umum.

7. Memiliki filsafat hidup yang mempersatukan

Orang-orang yang sehat melihat ke depan, didorong oleh tujuan dan rencana jangka panjang, orang-orang ini mempunyai suatu perasaan yang kuat dalam menetapkan suatu tujuan, dalam memilih suatu tugas untuk dikerjakan sampai selesai. baik penetapan tujuan maupun penyelesaian pekerjaan, merupakan batu sendi kehidupan mereka, dan ini memberi kontinyuitas bagi kepribadian mereka.

Allport menyebut dorongan yang mempersatukan ini sebagai ‘arah’ (directness), dan lebih kelihatan pada kebribadian yang sehat daripada orang-orang yang nuerotis. Arah itu membimbing semua segi kehidupan seseorang menuju ke suatu tujuan dan memberi orang itu suatu alasan untuk hidup. Kita membutuhkan tarikan yang tetap dari tujuan yang berarti, sebab tanpa tujuan-tujuan itu kita mungkin akan mengalami masalah kepribadian. Jadi bagi Allport, seseorang mustahil memiliki suatu kepribadian yang sehat kalau dia tak didukung adanya aspirasi-aspirasi dan arah ke masa depan.

Kerangka yang dipakai untuk tujuan khusus itu adalah ide tentang nilai. Alloprt menekankan bahwa nilai-nilai adalah sangat penting bagi perkembangan suatu filsafat hidup yang mempersatukan. Seorang individu dapat memilih berbagai nilai-nilai dan nilai-nilai itu mungkin berhubungan dengan dirinya sendiri.

Suara hati juga ikut berperan dalam suatu filsafat hidup yang mempersatukan. Allport mengemukaakan perbedaan antara suara hati yang matang dan suara hati yang tidak matang (neurotis). Suara hati yang tidak matang sama seperti suara hati kanak-kanak, yang hanya patuh pada suruhan, penuh dengan pembatasan dan larangan yang dibawa dari masa kanak-kanak ke dalam masa dewasa.suara hati yang tidak matangbercirikan perasan ‘harus’ dan bukan ‘sebaiknya’. Jika diumpamakan, orang yang tidak matang mungkin berkata, “saya harus bertingkah laku begini”, sedangkan orang yang sehat berkata “saya sebaiknya bertingkah laku begini”. Jadi suara hati matang adalah suatu perasaan kewajiban dan tanggung jawab kepada diri sendiri dan kepada orang lain; dimana semuanya itu mungkin berakar dalam nilai-nilai agama atau nilai-nilai etis.

4. Perkembangan kepribadian self menurut Rogers

Pendekatan Rogers terhadap terapi dan ‘model kepribadian sehat’ yang dihasilkannya, memberikan suatu gambaran tentang kodrat manusia yang disanjung-sanjung dan optimis. Apabila orang-orang bertanggung jawab terhadap kepribadian mereka sendiri dan mampu memperbaiki sendiri, maka mereka harus menjadi individu yang sadar dan rasional. Rogers percaya bahwa orang-orang dibimbing oleh persepsi sadar mereka sendiri tentang diri mereka dan dunia sekitar mereka; bukan oleh kekuatan-kekuatan tak sadar yang tidak dapat mereka kontrol. Kebermaknaan terakhir seseorang adalah pada pengalaman sadarnya sendiri dan pengalaman itu memberikan kerangka intelektual dan emosional dimana kepribadian terus menerus bertumbuh.

Menurut Rogers, manusia yang rasional dan sadar, tidak terkontrol oleh peristiwa-peristiwa masa kanak-kanak, karena masa itu sudah lewat seperti penyapihan yang lebih cepat, pengalaman-pengalaman seks sebelum waktunya dan pembiasaan akan kebersihan buang air kecil atau buang air besar. Hal-hal ini tidak menghukum atau membelenggu kita untuk hidup dalam konflik dan kecemasan yang tidak dapat dikontrol. Masa sekarang dan bagaimana kita memandangnya bagi kepribadian sehat adalah jauh lebih penting dari pada berlarut-larut mengingat masa lampau. Akan tetapi Rogers mengemukakan bahwa pengalaman-pengalaman masa lampau dapat mempengaruhi cara bagaimana kita memandang masa sekarang yang pada gilirannya mempengaruhi tingkat kesehatan psikologis kita. Jadi, pengalaman-pengalqaman masa kanak-kanak adalah penting, tetapi fokus Rogers tetap pada apa yang terjadi terhadap seseorang hari ini, saat sekarang; bukan pada apa yang terjadi waktu lampau.

5. Peranan positive regard dalam kepribadian individu menurut Rogers

‘Positive regard’ atau penghargaan positif, merupakan suatu kebutuhan yang bisa memaksa dan merembes, dimiliki oleh semua manusia; setiap anak terdorong untuk mencari ‘penghargaan positif’. Akan tetapi tidak setiap anak menemukan kepuasan yang cukup akan kebutuhan ini. Anak puas bila dia menerima cinta, kasih sayang, dan persetujuan dari orang lain (orang tua, terutama ibu). Sebaliknya, anak kecewa bila dia menerima celaan dan kurang mendapat cinta dan kasih sayang. Anak akan tumbuh menjadi suatu kepribadian yang sehat tergantung pada sejauh  mana kebutuhan akan ‘penghargaan positif’ ini dipuaskan dengan baik.

‘pengertian diri’ atau self concept yang berkembang pada anak sangat dipengaruhi oleh ibu. Bila orang tua mencela dan menolak tingkah laku anaknya, walaupun hanya sedikit celaan. Tetapi anak akan menganggap celaan itu sebagai suatu penghinaan yang luas dan tersebar dalam dirinya. Akhirnya anak menjadi peka terhadap setiap tanda penolakan dan segera mulai merencanakan tingkah lakunya menurut reaksi yang diharapkan dapat diterima.

Dalam hal ini, anak mengharapkan bimbingan tingkah lakunya dari orang lain, bukan dari dirinya sendiri. Karena dia telah merasa kecewa, maka kebutuhan akan ‘penghargaan positif’ yang sekarang bertambah kuat, makin lama makin mengerahkan energy dan pikiran. Anak harus bekerja keras untuk mencapai ‘penghargaan positif’ dengan mengorbankan aktualisasi diri.

Anak dalam situasi ini mengembangkan ‘penghargaan positif bersyarat’ atau conditional positive regard. Kasih sayang dan cinta yang diterima anak adalah syarat terhadap tingkah lakunya yang baik. Anak akan mengikuti dan menerapkan sikap-sikap ibu pada dirinya. Hal ini menyebabkan anak merasa bahwa suatu perasaan harga diri bisa muncul hanya dalam syarat-syarat tertentu.

6. Ciri-ciri orang yang berfungsi sepenuhnya

Menurut Rogers ada lima sifat orang yang berfungsi sepenuhnya, yaitu :

1. Adanya keterbukaan pada pengalaman

Seseorang yang tidak terhambat oleh syarat-syarat penghargaan, bebas untuk mengalami semua perasaan dan sikap. Tidak satu pun yang harus dilawan karena tak ada satu pun yang mengancam. Jadi, keterbukaan pada pengalaman adalah lawan dari sikap defensif. Setiap pendirian dan perasaan yang berasal dari dalam dan dari luar disampaikan ke system syaraf organisme tanpa rintangan.

Orang yang berfungsi sepenuhnya dapat dikatakan lebih berisi emosi, dalam pengertian bahwa dia mengalami banyak emosi yang bersifat positif dan negatif (baik berupa kegembiraan maupun kesusahan) dan mampu mengelola emosi-emosi itu lebih kuat daripada orang yang defensif.

2. Berada dalam kehidupan eksistensial

Orang yang berfungsi sepenuhnya, senantiasa hidup dalam setiap momen kehidupan. Setiap pengalaman dirasakan segar dan baru. Sesuatu yang dialami seperti sebelumnya  belum pernah ada, kemudian direspon dengan cara yang tidak sama. Maka setiap momen kehidupan selalu ada kegembiraan, karena setiap pengalaman dapat tersingkap secara segar.

Orang yang sehat terbuka kepada semua pengalaman, maka diri atau kepribadian terus menerus dipengaruhi atau disegarkan oleh setiap pengalaman. Sedangkan orang yang defensif harus mengubah suatu pengalaman baru untuk membuatnya harmonis dengan diri; dia memiliki suatu struktur diri yang berprasangka dimana semua pengalaman harus cocok dengannya

3. Adanya kepercayaan terhadap organisme diri sendiri

Rogers menyatakan, “apabila suatu aktivitas terasa seakan-akan berharga atau perlu dilakukan, maka aktivitas itu perlu dilakukan. Sebaliknya, jika suatu aktivitas terasa tak ada makna dan tak berarti, maka aktivitas itu tak perlu dilakukan”.

Bertingkah laku menurut apa yang dirasa benar, merupakan pedoman yang sangat diandalkan dalam memutuskan  suatu tindakan, lebih dapat diandalkan daripada faktor-faktor rasional atau intelektual. Orang yang berfungsi sepenuhnya dapat bertindak menurut impuls-impuls yang timbul seketika dan intuitif. Dalam tingkah laku yang seperti itu terdapat banyak spontanitas dan kebebasan, tetapi tidak sama dengan bertindak terburu-buru atau sama sekali tidak memperhatikan konsekuensi-konsekuensinya.

4. Memiliki perasaan bebas

Rogers percaya semakin seseorang sehat secara psikologis, maka semakin ia mengalami kebebasan untuk memilih dan bertindak. Orang yang sehat dapat memilih dengan bebas tanpa adanya peksaan atau rintangan antara alternative pikiran dan tindakan.

Orang yang berfungsi sepenuhnya memiliki suatu perasaan berkuasa secara pribadi mengenai kehidupan dan percaya bahwa masa depan bergantung pada dirinya, tidak diatur oleh tingkah laku, keadaan atau peristiwa masa lampau. Orang yang sehat melihat sangat banyak pilihan kehidupan dan mereka merasa mampu untuk melakukan apa saja

5. Senantiasa kreatif

Semua orang yang berfungsi sepenuhnya sangat kreatif. Menurut Rogers orang-orang yang terbuka sepenuhnya kepada semua pengalaman, yang percaya akan organisme mereka sendiri, yang fleksibel dalam keputusan dan tindakannya, ialah orang-orang yang akan  mengungkapkan diri mereka dalam produk-produk yang kreatif, serta kehidupan yang  kreatif  dalam semua bidang kehidupannya. Orang kreatif  bertingkah laku spontan, senantiasa berubah, bertumbuh dan berkembang sebagai respon atas stimulus-stmulus kehidupan yang beraneka ragam di sekitar mereka. Mereka tidak terkenal, karena penyesuaian diri yang pasif terhadap tekanan-tekanan social dan kultural. Karena mereka kurang bersikap defensive, maka mereka tidak menghiraukan kemungkinan tingkah laku mereka di terima dengan baik oleh orang lain.

SUMBER :

Baihaqi, MIF. (2008). Psikologi Pertumbuhan, Kepribadian Sehat Untuk Mengembangkan Optimisme. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s