KETIDAKBERFUNGSIAN MINIMAL OTAK (MINIMAL BRAIN DYSFUNCTION)

KETIDAKBERFUNGSIAN MINIMAL OTAK (MINIMAL BRAIN DYSFUNCTION)

ketidakberfungsian minimal otak digunakan untuk merujuk suatu kondisi gangguan syaraf minimal pada anak. Ketidakberfungsian ini bisa termanifestasi dalam berbagai kombinasi kesulitan seperti: persepsi, konseptualisasi, bahasa, memori, pengendalian perhatian, impulse (dorongan), atau fungsi motorik.

Anak-anak yang mengalami ketidakberfungsian minimal otak mungkin menampakkan berbagai simptom (gejala). Mereka mungkin menghadapi kesulitan untuk mengikuti kegiatan kelas seperti membaca, mengeja, dan berhitung; kesulitan dalam memahami konsep konkrit maupun abstrak; performanya cenderung kacau atau tak beraturan-tinggi dalam bidang tertentu dan rendah dalam bidang lainnya. Mereka sering menunjukkan gejala kurang mampu memusatkan perhatian, ketidakstabilan emosi, frustasi, dan sikap permusuhan.

Beberapa simptom spesifik dari ketidakberfungsian minimal otak ialah :

a. kelemahan dalam persepsi dan pembentukan konsep
• Kelemahan dalam membedakan ukuran.
• Kelemahan dalam membedakan kiri-kanan dan atas-bawah.
• Kelemahan tilikan ruang.
• Kelemahan orientasi waktu.
• Kelemahan dalam memperkirakan jarak.
• Kelemahan membedakan bagian-keseluruhan.
• Kelemahan memahami keutuhan.

b. Gangguan bicara dan komunikasi
• Kelemahan membedakan stimulus auditif.
• Perkembangan bahasa yang lambat.
• Seringkali kehilangan pendengaran.
• Seringkali bicara tak teratur.

c. Gangguan fungsi motorik
• Seringkali gemetar atau menunjukkan kekakuan gerak.
• Hiperaktivitas.
• Hipoaktivitas.

d. Kemunduran prestasi dan penyesuaian akademik
• Ketidakcakapan membaca.
• Ketidakcakapan berhitung.
• Ketidakcakapan mengeja.
• Ketidakcakapan menulis dan menggambar.
• Kelambanan menyelesaikan pekerjaan.
• Kebimbangan memahami instruksi.

e. Karakteristik emosional
• Impulsif.
• Eksplosif.
• Kelemahan kendali emosi dan dorongan.
• Toleransi rendah terhadap frustasi.

f. Gangguan proses berfikir
• Ketidakcakapan berfikir abstrak.
• Umumnya berfikir konkret.
• Kesulitan membentuk konsep.
• Seringkali berpikirnya tak terorganisasi.
• Keterbatasan rentang memori.
• Seringkali berfikir autistik.

Sumber :
Dra. Hj. T. Sutjihati Somantri, M.Si., psi. (2007). “Psikologi Anak Luar Biasa”. Bandung: PT. Refika Aditama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s