TUGAS REVIEW JURNAL PSIKOLOGI KELOMPOK

TUGAS REVIEW JURNAL TENTANG KELOMPOK

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr.Wb.

Puji syukur kehadirat Allah SWT serta junjungan nabi besar kita Muhammad SAW yang telah memberikan nikmat sehat kepada kita semua. Shalawat serta salam kita panjatkan kepada pemilik jagad raya yang tak terbatas ini, yang juga kita jadikan sebagai penuntun hidup di dunia ini agar kita dapat menjadi orang-orang yang beriman kepada-Nya. Amin.

Alhamdulillah, dengan terselesaikannya pembuatan review jurnal tentang kelompok ini, kami sangat bersyukur. Karena dengan niat yang baik kami ingin melengkapi tugas yang diberikan oleh dosen yang bersangkutan guna memenuhi nilai mata kuliah tersebut. Review jurnal ini berisi tentang pembentukan suatu kelompok, konflik kelompok, prestasi kelompokn beserta penjabaran lainnya yang saling berkaitan. Kami berharap dengan kehadiran tulisan ini dapat memberikan pengetahuan baru bagi para pembaca yang tidak mengetahui secara dalam tentang hal tersebut.

Demikian yang bisa kami  sampaikan, mohon maaf apabila terdapat banyak kesalahan dalam makalah ini. Kritik yang membangun adalah satu hal yang kami butuhkan.

Akhir kata, kami mengucapkan terimakasih.

Wassalam Wr.Wb.

PEMBAHASAN

TEORI MENGENAI KELOMPOK

A. PEMBENTUKAN KELOMPOK

Model pembentukan suatu kelompok pertama kali diajukan oleh Bruce Tackman pada 1965. Teori ini dikenal sebagai salah satu teori pembentukan kelompok yang terbaik dan menghasilkan banyak ide-ide lain setelah konsep ini dicetuskan. Teori ini memfokuskan pada cara suatu kelompok menghadapi suatu tugas mulai dari awal pembentukan kelompok hingga proyek selesai. Selanjutnya Tuckman menambahkan tahap kelima yaitu adjourning dan transforming untuk melengkapi teori ini.

  1. Tahap 1 – Forming

Pada tahap ini, kelompok baru saja dibentuk dan diberikan tugas. Anggota kelompok cenderung untuk bekerja sendiri dan walaupun memiliki itikad baik namun mereka belum saling mengenal dan belum bisa saling percaya. Waktu banyak dihabiskan untuk merencanakan, mengumpulkan infomasi dan mendekatkan diri satu sama lain.

  1. Tahap 2 – Storming

Pada tahap ini kelompok mulai mengembangkan ide-ide berhubungan dengan tugas yang mereka hadapi. Mereka membahas isu-isu semacam masalah apa yang harus merka selesaikan, bagaimana fungsi mereka masing-masing dan model kepemimpinan seperti apa yang dapat mereka terima. Anggota kelompok saling terbuka dan mengkonfrontasikan ide-ide dan perspektif mereka masing-masing.

Pada beberapa kasus, tahap storming cepat selesai. Namun ada pula beberapa kelompok yang mandek pada tahap ini. Tahap storming sangatlah penting untuk perkembangan suatu kelompok. Tahap ini bisa saja menyakitkan bagi anggota kelompok yang menghindari konflik. Anggota kelompok harus memiliki toleransi terhadap perbedaan yang ada.

  1. Tahap 3 – Norming

Terdapat kesepakatan dan konsensus antara anggota kelompok. Peranan dan tanggung jawab telah jelas. Kelompok mulai menemukan haromoni seiring dengan kesepakatan yang mereka buat mengenai aturan-aturan dan nilai-nilai yang digunakan. Pada tahap ini, anggota kelompok mulai dapat mempercayai satu sama lain seiring dengan mereka melihat kontribusi penting masing-masing anggota untuk kelmpok.

  1. Tahap 4 – Performing

Kelompok pada tahap ini dapat berfungsi dalam menyelesaikan pekerjaan dengan lancar dan efektif tanpa ada konflik yang tidak perlu dan supervisi eksternal. Anggota kelompok saling tergantung satu sama lainnya dan mereka saling respek dalam berkomunikasi. Supervisor dari kelompok ini bersifat partisipatif. Keputusan penting justru banyak diambil oleh kelompok.

  1. Tahap 5 – Adjourning dan Transforming

Ini adalah tahap yang terakhir dimana proyek berakhir dan kelompok membubarkan diri. Kelompok bisa saja kembali pada tahap manapun ketika mereka mengalami perubahan (transforming). Misalnya jika ada review mengenai goal ataupun ada perubahan anggota kelompok.

Keunggulan dari teori ini adalah menjadi suatu pedoman dalam pembentukan suatu kelompok. Sementara itu keterbatasannya antara lain:

a) Model ini didesain untuk menjelaskan tahap-tahap yang terjadi pada kelompok  dengan ukuran kecil.

b) Pada kenyataannya, proses kelompok tidak linear seperti penjelasan pada teori Tuckman, namun lebih bersifat siklus.

c) Karakteristik tiap tahap tidak selalu saklek seperti itu. Karena model ini  berkaitan dengan perilaku manusia, maka kadang tidak jelas ketika sebuah kelompok berpindah dari satu tahap ke tahap lainnya. Mungkin saja terjadi tumpang tindih antar tahap tersebut.

d) Model ini tidak memperhitungkan peranan yang harus diambil individu dalam kelompok.

e) Tidak ada pedoman mengenai jangka waktu mengenai perpindahan dari satu.

B. SUMBER KONFLIK ANTAR KELOMPOK

Konflik di antara kelompok terjadi pada semua tingkat dalam organisasi sosial.

Faktor utama terjadinya konflik di antara Rattlers dan Eagle.

1) Persaingan

Persaingan terjadi karena pada dasarnya kelompok akan lebih suka “mempunyai” dari pada “ tidak mempunyai”, dan karena itu mereka mengambil langkah perencanaan dalam mencapai dua hasil, mencapai tujuan yang diinginkan dan mencegah kelompok lain mendapatkan tujuannya

2) Pengelompokkan Sosial

Dalam belajar mereka memahami lingkungan sosialnya dan menggolongkan objek yang hidup dan tidak hidup. Tajfel mengusulkan bahwa “hanya permasalahan pribadi untuk dua kelompok yang nyata hanya itu, pengelompokkan sosial-cukup diskriminasi antar kelompok.”

Dua dasar kategori sosial adalah :

(1) Anggota kelompok, dan

(2) Anggota kelompok lain (Hamilton, 1979).

Walaupun pengelompokkan sosial ini menolong orang memahami lingkungan sosialnya, Tajfel (Tajfel & Turner,p. 38) mengusulkan bahwa ”hanya pemahaman pribadi untuk dua kelompok yang nyata hanya itu, pengelompokkan sosial-cukup diskriminasi antarkelompok”.

Tajfel menyebut kelompok kecil karena :

1. Anggota pada kelompok yang sama tidak pernah bergaul dalam keadaan tatap muka,

2. Identitas di dalam kelompok dan di luar kelompok anggota tetap tidak tahu, dan

3. Bukan keuntungan ekonomi perseorangan yang bisa terjamin dengan mengizinkan banyak atau kurangan uang pada keterangan individu. Intinya, kelompok adalah ”kognitif murni”; mereka hanya ada pada pikiran mereka sendiri.

3)  Penyerangan antara Kelompok

Dari beberapa tindakan negatif atau buruk dalam kenyataannya merupakan ancaman bagi kelompok mencapai pertengkaran, tindakan tersebut berawal dari penghinaan suku etnik budaya, memasuki wilayah kekuasaan kelompk lain tanpa izin atau pencarian properti geng lain (Gannon, 1966;Yablonsky, 1959).

C. KONSEKUENSI KONFLIK ANTAR KELOMPOK

Konsekuensi antar kelompok ini disarankan agar tidak dikhususkan untuk kelompok saja, tapi beberapa konflik sejenis nisa menciptakan sejumlah perubahan yang dapat diperkirakan yang melibatkan kelompok. Secara umum, ada dua reaksi dasar yang terjadi. Yang pertama, perubahan dalam tim menciptakan peningkatan kekompakkan atau  rasa solidaritas, penolakan terhadap tim lain, dan diferensiasi tim yang semakin hebat. Kedua, konflik antar tim tampaknya dapat menciptakan salah sangka atas motif dan

kualitas anggota tim lain.

Prinsip konsekuensi konflik antar kelompok mencakup :

-   Proses perubahan dalam kelompok

-   Konflik dan kekompakkan (solidaritas)

-   Konflik dan pemolakan kelompok lain

-   Konflik diantara kelompok

-   Perubahan-perubahan dan persepsi yang terjadi dalam kelompok

-  Kesalahan persepsi dan pemikiran bayangan (terbalik)

-  Gambaran musuh yang kejam

-  Gambaran kelompok bermoral

-  Gambaran kekuatan kelompok

-  Bayangan terbalik

-  Stereotif

D. PENGURANGAN KONFLIK INTERGROUP

Untuk mengurangi konflik yang yang terjadi antar kelompok dapat dilakukan dengan  upaya-upaya sebagai berikut :

  1. Hubungan intergroup

Sherifs mempertimbangkan untuk membawa anggota dua kelompok bersama-sama dalam beberapa aktivitas kelompok menyenangkan dengan harapan akan  menghasilkan ikatan intergroup. Suksesnya hubungan sebagai alat untuk mengurangi konflik intergroup akan tergantung pada apa yang terjadi sepanjang hubungannya sendiri.

  1. Kerjasama antar kelompok

Sherif membairkan keleluasaan kepada kelompok-kelompok untuk saling berhubungan dengan dengan caranya masing-masing.karena survei membuktikan bahwa hasil yang lebih tinggi aka dicapai oleh kelompok-kelompk yang bekerjasama dan  membentuk sebagai regu. Setiap kelompok yang sedang berselisih harus dapat bersama-sama mencari jalan keluar yang bersifat tidak saling merugikan, supaya bisa bersma-sama mencapai hasil yang memuaskan dan tentu saja yang memang diharapkan oleh kelompk-kelompk tersebut. Sherif beroendapat sebuah kelompok harus dapat menciptakan kelompk tersebut. Sherif beroendapat sebuah kelompok harus dapat menciptakan kepercayaan antara kelompok-kelompok tersebut. Membangun kepercayaan ini adalah salah satu langkah dalam sistem pengurangan konflik diantara masyarakat.

JURNAL I

KONSEP DIRI DENGAN KONFORMITAS TERHADAP KELOMPOK TEMAN SEBAYA PADA AKTIVITAS CLUBBING (Sebuah Studi Korelasi pada Siswa Kelas XI SMA Negeri 1 Purwokerto yang Melakukan Clubbing)

1. YANG DITELITI

Konsep Diri Dengan Konformitas Terhadap Kelompok Teman Sebaya Pada Aktivitas Clubbing

2. LATAR BELAKANG

Masa remaja adalah suatu masa peralihan yang sering menimbulkan gejolak. Remaja berasal dari istilah adolescence yang memiliki arti tumbuh untuk mencapai kematangan, baik mental, emosional, sosial, dan fisik. Pada masa ini ditandai dengan adanya perkembangan yang pesat pada individu dari segi fisik, psikis dan sosialnya. Pada masa ini pula timbul banyak perubahan yang terjadi, baik secara fisik maupun psikologis, seiring dengan tugas-tugas perkembangan yang harus dipenuhi oleh remaja. Berkaitan dengan hubungan sosial, remaja harus menyesuaikan diri dengan orang di luar lingkungan keluarga, seperti meningkatnya pengaruh kelompok teman sebaya (peer group). Kuatnya pengaruh kelompok sebaya terjadi karena remaja lebih banyak berada di luar rumah bersama dengan teman sebaya sebagai kelompok. Kelompok teman sebaya memiliki aturan tertentu yang harus dipatuhi oleh remaja sebagai anggota kelompoknya. Penyesuaian remaja terhadap norma dengan berperilaku sama dengan kelompok teman sebaya disebut konformitas dengan kelompok teman sebaya disebut konformitas.

Adanya konformitas dapat dilihat dari perubahan perilaku atau keyakinan karena adanya tekanan dari kelompok, baik yang sungguh-sungguh ada maupun yang dibayangkan sajakonformitas adalah kecenderungan untuk mengikuti keinginan dan norma kelompok.Konformitas merupakan salah satu   bentuk penyesuaian dengan melakukan perubahan-perubahan perilaku yang disesuaikan dengan norma kelompok. Konformitas terjadi pada remaja karena pada perkembangan sosialnya, remaja melakukan dua macam gerak yaitu remaja mulai memisahkan diri dari orangtua dan menuju ke arah teman-teman sebaya bahwa kelompok teman sebaya adalah suatu kelompok yang terdiri dari remaja yang mempunyai usia, sifat, dan tingkah laku yang sama dan ciri-ciri utamanya adalah timbul persahabatan.

Remaja yang mempunyai tingkat konformitas tinggi akan lebih banyak tergantung pada aturan dan norma yang berlaku dalam kelompoknya, sehingga remaja cenderung mengatribusikan setiap aktivitasnya sebagai usaha kelompok, bukan usahanya sendiri konformitas yang cukup kuat tidak jarang membuat individu melakukan sesuatu yang merusak atau melanggar norma social. kebutuhan untuk diterima dalam kelompok sebaya menyebabkan remaja melakukan perubahan dalam sikap dan perilaku sesuai dengan perilaku anggota kelompok teman sebaya. Demikian pula bila anggota kelompok mencoba minum alkohol, obat-obat terlarang atau berperilaku agresif, maka remaja cenderung mengikutinya tanpa mempedulikan akibatnya bagi diri mereka sendiri. clubbing sebagai bentuk aktivitas yang dilakukan oleh remaja dengan kegiatan bersenang-senang ke tempat hiburan yang sedang menjadi trendsetter seperti kafe, diskotik atau lounge dengan berdisko, minum alkohol sampai mencari kenalan atau teman baru. Clubbing sering disebut sebagai dugem atau dunia gemerlap karena tidak lepas dari kilatan lampu disko yang gemerlap dan dentuman music techno yang dimainkan para DJ handal.

Fenomena clubbing mulai merebak di kota kecil seperti Purwokerto. Saat ini di Purwokerto terdapat tiga tempat hiburan malam yaitu Cheer’s, De Front, dan Zone Café. Pengelola tempat hiburan berlomba-lomba untuk menarik perhatian pengunjung dengan mengadakan berbagai macam acara yang menarik setiap minggunya, seperti free for ladies, free tequila for Thursday, I Love Monday, Saturdelizious, dan The Faculty.

Remaja dianggap konsumen yang potensial karena masa remaja dianggap sebagai masa peralihan dan sering disebut sebagai masa pencarian identitas diri. Remaja gelisah untuk meninggalkan stereotip belasan tahun dan ingin memberi kesan bahwa mereka sudah hampir dewasa dengan semakin mendekatnya usia kematangan yang sah. Berpakaian dan bertindak seperti orang dewasa ternyata belum cukup, sehingga remaja mulai memusatkan diri pada perilaku yang dihubungkan dengan status dewasa, yaitu merokok, minum minuman keras, menggunakan obat-obatan dan terlibat dalam perbuatan seks untuk memberikan citra yang diinginkan.

Clubbing menawarkan kebebasan, tidak hanya pada masalah pakaian, gaya rambut, musik, dan hiburan tetapi juga free sex dan narkoba. Clubbing dipersepsikan sebagai suatu hal yang negatif karena merupakan kegiatan di tempat gelap dengan warna warni cahaya lampu, asap rokok yang memenuhi ruangan, suasana hingar bingar musik dari live band atau para disc jockey (DJ), dan meja bar dengan berbagai macam minuman beralkohol bahkan narkoba Pelaku clubbing yang biasa disebut clubbers diberi kebebasan untuk berekspresi, seperti bernyanyi, menggoyangkan kepala, berteriak- teriak dan menari di lantai dansa diiringi musik dengan tempo cepat. Konsep diri adalah gambaran yang dimiliki orang tentang dirinya menjelaskan pandangan, penilaian dan perasaan individu mengenai dirinya yang timbul sebagai hasil dari suatu interaksi sosial sebagai konsep diri. Konsep diri mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap perilaku individu, yaitu individu akan bertingkah laku sesuai dengan konsep diri yang dimiliki konsep diri akan mempengaruhi cara individu dalam bertingkah laku di tengah masyarakat.

3. METODE YANG DIGUNAKAN

Metode Kuantitatif.

Variabel kriterium dalam penelitian ini adalah konformitas terhadap kelompok teman sebaya pada aktivitas clubbing, sedangkan variabel bebasnya adalah konsep diri. Dalam penelitian ini yang menjadi subjek penelitian adalah siswa kelas XI SMA Negeri 1 Purwokerto yang pernah melakukan aktivitas clubbing sebanyak 46 siswa.

4. PENGUJIAN

Alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala psikologi. Skala yang digunakan sebagai berikut:

a) Skala Konsep Diri

Skala konsep diri yang digunakan dalam penelitian ini diukur berdasarkan aspek yang dikemukakan oleh Fitts (dalam Agustiani, 2006, h.139-142) yaitu diri fisik, diri etik-moral, diri pribadi, diri keluarga, dan diri sosial.

b) Skala Konformitas Terhadap Kelompok Teman Sebaya pada Aktivitas Clubbing

Skala konformitas terhadap kelompok teman sebaya pada aktivitas clubbing diukur berdasarkan aspek-aspek konformitas yang disusun oleh Wiggins dkk (1994, h.277) yaitu menuruti keinginan kelompok dan internalisasi.

Analisis data dilakukan dengan menggunakan bantuan komputer program SPSS (Statistical Packages for Social Science) for windows versi 12.0.

5. HASIL

a) Uji Normalitas

Hasil uji normalitas menunjukkan bahwa kedua variabel dalam penelitian ini memiliki distribusi normal. Hal tersebut dapat dilihat dari uji normalitas yang menghasilkan Kolmogorov-Smirnov sebesar 0,847 dengan p = 0,469 (p>0,05) untuk variabel konsep diri, dan 0,766 dengan p = 0,600 (p>0,05) untuk variabel konformitas terhadap kelompok teman sebaya pada aktivitas clubbing.

b) Uji Linearitas

Uji linearitas hubungan antara variabel konsep diri dan konformitas terhadap kelompok teman sebaya pada aktivitas clubbing menunjukkan bahwa hubungan kedua variabeladalah linear,  sehingga dengan terpenuhinya kedua asumsi tersebut (normalitas dan linearitas), maka analisis data dapat diteruskan dengan uji hipotesis melalui teknik

c) Analisis Regresi

Analisis regresi sederhana menunjukkan seberapa besar hubungan antara konsep diri dengan konformitas terhadap kelompok teman sebaya pada aktivitas clubbing melalui rxy = -0,340 dengan p = 0,021 (p<0,05). Arah hubungan negatif menunjukkan bahwa semakin positif konsep diri maka konformitas terhadap kelompok teman sebaya pada aktivitas clubbing semakin rendah, sehingga hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat korelasi negatif antara konsep diri dengan konformitas terhadap kelompok teman sebaya pada aktivitas clubbing siswa kelas XI SMA Negeri 1 Purwokerto dapat diterima.

JURNAL II

SISTEM TATANAN MASYARAKAT DAN KEBUDAYAAN ORANG BADUY (Suatu Kajian terhadap Perubahan Sosial dan Kelestarian Nilai-nilai Tradisional Masyarakat Baduy)

1. YANG DITELITI

Perubahan Sosial dan Kelestarian Nilai-nilai Tradisional Masyarakat Baduy.

2. LATAR BELAKANG

Review jurnal :

Awal Terbentuknya Kelompok :

Di wilayah hutan Banten terdapat Desa adat Kanekes yang luasnya 5.101,85 Ha. Dengan jumlah warga masyarakatnya, yang dikenal dengan sebutan orang Baduy. 4.574 orang yang tersebar di 10 buah kampung.

Sebutan baduy untuk warga desa kanekes sebenarnya bukan berasal dari mereka sendiri, tetapi dari luar yang tumbuh menjadi sebutan diri. Orang Belanda menyebut mereka dengan badoe‟i, badoej, badoewi, Urang Kanekes dan Rawayan

Penduduk Desa Kanekes adalah orang Baduy, tidak tercampur oleh penduduk luar, bahasanya termasuk kategori dialek Sunda Banten atau sub dialek Baduy yang memiliki ciri-ciri khusus, seperti tidak memiliki undak-usuk, aksen tinggi dalam lagu kalimat dan beberapa jenis struktur kalimat berlainan dengan bahasa Sunda lulugu.

Masyarakat Baduy di Desa Kanekes, adalah masyarakat yang memiliki tradisi khas, yang berbeda dengan masyarakat jawa Barat pada umumnya. Tradisi mereka disebut Pikukuh Baduy. Ikatan kepada Pikukuh ditentukan oleh tempat orang Baduy berada atau bermukim, yaitu yang menjadi ciri organisasi sosialnya dalam satu kesatuan kelompok kekerabatan. Orang Tangtu bermukim di Kampung Cibeo, Cikeusik dan Cikartawana, dikenal dengan sebutan Orang Baduy Dalam sebagai pemegang Pikukuh Baduy. Orang Panamping sebagai pemilik adat Baduy berada di bawah pengawasan Baduy Dalam yang mempunyai ikatan pikukuh lebih longgar, disebut Baduy Luar. Untuk menjaga pikukuh tersebut dan pengendalian agar tetap terpelihara maka dilaksanakan aturan untuk mempertahankannya yang disebut Buyut. Buyut adalah larangan bagi masyarakat Baduy. Inti dari pikukuh Baduy itu adalah , “ Lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung “ (segala sesuatu yang ada dalam kehidupan tidak boleh dikurang maupun ditambah, harus tetap utuh). Dan Buyut dalam kehidupan mereka terbagi menjadi 3 yaitu : (1) Tabu untuk melindungi kemurnian sukma (manusia); (2) Tabu untuk melindungi kemurnian mandala; (3) Tabu untuk melindungi kemurnian tradisi.

Dasar religi orang Baduy ialah penghormatan ruh nenek moyang dan kepercayaan kepada satu kuasa, Batara Tunggal. Keyakinan mereka itu disebut Sunda Wiwitan atau agama Sunda Wiwitan.

Prinsip yang dimiliki dan dijalani oleh masyarakat baduy antara lain tidak membangun pemungkiman dari bebatuan, semen, genting, paku atau produk industri modern lainnya.

Konflik Kelompok :

Masyarakat Baduy merupakan sekelompok masyarakat yang kuat memegang tradisi nenek moyang di mana seluruh sistem sosialnya bersumber pada sistem religinya. Perubahan sosial dan kebudayaan masyarakat Baduy, sebagai akibat dari perubahan yang terjadi dalam lingkungan hidup mereka, baik lingkungan alam dan fisiknya maupun lingkungan sosialnya. Perubahan lingkungan alam yaitu hutan yang sebenarnya secara tradisional merupakan tempat mereka hidup dan menjadi sumber penghidupan mereka secara lambat atau cepat sedang dan telah berubah karena peningkatan pendayagunaan sumber-sumber hasil hutan dan pemanfaatan lahan-lahan pertanian oleh pemerintah.

3. HASIL

Perubahan lingkungan alam/fisik tersebut menuntut adanya adaptasi dari masyarakat Baduy terhadap lingkungannya yang baru dan perubahan tersebut langsung atau tidak langsung menuntut adanya perubahan kebudayaan masyarakat Baduy tersebut. Sementara perubahan itu sendiri bisa diakibatkan oleh adanya turut campur pemerintah dalam mengatur tata kehidupan mereka, yaitu dalam bentuk memukimkan kembali dalam tempat-tempat pemukiman khusus untuk mereka dan perubahan itu bisa juga disebabkan oleh lebih seringnya kontak dengan golongan-golongan sosial atau suku-suku bangsa lainnya, atau karena masuknya teknologi modern dan sekolah, agama serta media massa modern.

JURNAL III

PEER GROUP IDENTIFIKASI DIRI ANTARA ALTERNATIF SMA PEMUDA: SEBUAH PREDIKSI DARI MEREKA FUNGSI PSIKOSOSIAL LIMA TAHUN KEDEPAN.

1. YANG DITELITI

Masalah psikososial pada peer group remaja lima tahun kedepan.

2. LATAR BELAKANG

Masa remaja merupakan masa pembentukan identitas dan pembentukan sikap, keterampilan, dan perilaku yang akan mempengaruhi sosial, fisik, dan hasil ekonomi sepanjang perjalanan hidup.  Banyak pengaruh di bidang sosial dan remaja bentuk fisik lingkungan identitas, termasuk keluarga, sekolah sistem, lingkungan, media, dan kelompok sebaya. Pengaruh peer kelompok yang sangat kuat selama masa remaja. Kelompok peer remaja memainkan peran utama dalam pengembangan diri anggotanya-identitas

Ada beberapa cara yang mungkin digambarkan kelompok, termasuk peneliti etnografi penilaian atau laporan dari orang dewasa lainnya, analisis sociometric, dan cluster analitik kesimpulan. Strategi lain yang telah digunakan dalam literatur ini disebut “Kelompok identifikasi diri.” Dalam protokol ini, pemuda diperintahkan untuk menunjukkan nama kelompok bahwa mereka merasa mereka yang paling bagian dari di sekolah atau dalam konteks lain. Item tanggapan adalah tipe baik isi-in-the kosong atau menyertakan nama spesifik yang berasal dari sebelumnya bekerja. Karena peer group diri remaja ‘-identifikasi dikaitkan dengan resiko mereka masalah perilaku satu atau lebih tahun kemudian, adalah mungkin bahwa peer group identifikasi diri juga mempengaruhi keputusan mereka dan psikososial berfungsi selama masa transisi untuk muda dewasa.

3. METODE

Para remaja yang berpartisipasi dalam penelitian ini adalah kelanjutan siswa sekolah tinggi di California yang berpartisipasi dalam Proyek TND, sebuah proyek pencegahan penggunaan narkoba. Melanjutkan sekolah tinggi publik alternatif sekolah bagi siswa yang perilaku masalah atau keadaan hidup mengganggu mereka sukses di sekolah tinggi tradisional.

Sekolah-sekolah ini secara konsisten menunjukkan prevalensi tinggi penggunaan substansi dan kekurangan program pencegahan. Sebanyak 21 kabupaten sekolah dari lima wilayah-wilayah Selatan California berpartisipasi dalam penelitian pada tahun 1995. Persetujuan formulir dikirim pulang ke orang tua untuk menandatangani; orang tua yang tidak merespon dengan persetujuan tertulis atau penolakan yang dihubungi melalui telepon untuk mendapatkan persetujuan lisan atau penolakan. Pada awal tahun 1995, sekitar 3% dari siswa atau orang tua mereka menolak untuk berpartisipasi dalam pengumpulan data. Sebanyak 1551 setuju mata pelajaran di 21 sekolah menyelesaikan kuesioner laporan diri pada awal. Dari responden baseline, 1.318 (85%) memberikan izin orang tua yang memungkinkan siswa yang akan resurveyed di masa depan.

Tiga bentuk kuesioner tersebut digunakan. Setiap bentuk termasuk inti set pertanyaan di awal, diikuti oleh tiga modul pertanyaan. Urutan tiga modul yang diputar di tiga bentuk survei sehingga setiap modul akan muncul di bagian akhir survey untuk sekitar sepertiga dari siswa. Dalam sebagian besar kasus, kendala waktu yang diberikan setiap siswa untuk menyelesaikan dua modul pertama, tetapi bukan ketiga. Oleh karena itu, rotasi kuesioner memungkinkan kami untuk mendapatkan data pada masing-masing variabel dari setidaknya dua pertiga dari siswa yang disurvei. Dari 1318 siswa yang persetujuan diberikan pada awal, 952 (72%) menyelesaikan item peer group digunakan dalam analisis. Gelombang akhir pengumpulan data yang diberikan selama jangka waktu dua tahun yang rata-rata lima tahun setelah baseline. Follow-up data yang dikumpulkan selama dua tahun periode untuk memungkinkan berulang kali upaya untuk menghubungi siswa. Sebanyak 532 responden (57% dari 932 yang menyelesaikan item peer group pada awal berhasil resurveyed.

Prosedur Pengumpulan Data :

-  Baseline survei. Siswa menyelesaikan survei kertas-dan-pensil di kelas mereka. Pengumpul data terlatih proctored administrasi survei, mengingatkan para siswa bahwa partisipasi mereka adalah sukarela dan bahwa respon mereka rahasia. Kuesioner terdiri dari bagian inti di depan (perilaku dan informasi demografis), diikuti oleh tiga bagian yang putar di berbagai bentuk kuesioner (pengetahuan, sosial, dan bagian pribadi). Ketiga bentuk survei secara acak dibagikan kepada siswa dalam ruang kelas.

-  Lima tahun tindak lanjut survei. Pada lima tahun follow up, subjek yang disurvei melalui telepon menggunakan format wawancara. Sebuah prosedur pelacakan itu luas digunakan untuk menemukan peserta asli, termasuk panggilan telepon, pencarian di Internet, dan pencarian database lain yang tersedia (McCuller et al, 2002.). Staf proyek (Sebelumnya tidak diketahui untuk siswa) dihubungi subyek melalui telepon, membaca item kuesioner kepada mereka, dan dicatat tanggapan mereka pada survei bentuk (McCuller et al, 2002.).

Analisis Data

Model Chi-square dan ANOVA digunakan untuk membandingkan ukuran hasil di empat kelompok sebaya. uji Chi-square digunakan untuk ukuran hasil kategori dan model ANOVA digunakan untuk mengukur hasil yang kontinu. Dalam chi-kuadrat analisis, nilai sel baku dibandingkan. Dalam model ANOVA, Penting post hoc Terkecil Selisih (LSD) tes digunakan untuk menentukan signifikansi kelompok-antara perbandingan. Analisis ini diulangi membandingkan siswa berisiko tinggi dengan semua lainnya siswa.

4. HASIL

Deskripsi Sampel Sebagian besar (57%) adalah laki-laki. Subjek berkisar di usia 19-24 tahun, dengan berusia rata-rata 22 (SD =. 8). Setengah dari subjek Latino (50%), diikuti oleh 31% putih, 6% Afrika Amerika, 5% Asian American, dan etnis lainnya 9%. Sebanyak 69% dari sampel melaporkan telah menyelesaikan sekolah menengah. Sebagian besar (74%) adalah saat ini bekerja. Dalam hal status perkawinan, 69% adalah tunggal, 28% menikah atau terlibat, dan 3% adalah bercerai atau terpisah. Sebanyak 41% memiliki paling sedikit satu anak.Lebih dari sepertiga (42%) yang saat ini tinggal dengan satu atau lebih tua atau dewasa kerabat. Persentase subjek yang telah digunakan setidaknya satu obat lembut dalam 30 terakhir hari adalah 80% pada 5 tahun follow up. Prevalensi 30-hari merokok dan menggunakan alkohol 64% dan 70%, masing-masing. Prevalensi 30-hari penggunaan marijuana dan setiap penggunaan obat keras adalah 29%, dan 13%, masing-masing. Pada 5-tahun follow up, 47% subyek yang dilaporkan telah berpengalaman dalam satu tahun terakhir setidaknya salah satu dari 21 alkohol dan konsekuensi narkoba dinilai dalam konsekuensi pribadi diperluas skala, dan 15% dilaporkan mengalami setidaknya satu dari 9 masalah termasuk dalam obat daftar masalah. Sebagian besar responden (79%) melaporkan bahwa mereka telah didorong sedangkan mabuk atau dibawah pengaruh obat-obatan, atau telah berkuda di dalam mobil ketika sopir itu mabuk atau dibawah pengaruh obat-obatan, dalam satu tahun terakhir.

JURNAL 4

THE JERSEY PUNK BASEMENT SCENE: EXPLORING THE

INFORMATION UNDERGROUND

1. MENELITI APA :

Anak punk dan kaitannya dengan obat-obatan terlarang dan perilaku kekerasan.

2. LATAR BELAKANG

Punk merupakan sub-budaya yang lahir di London, Inggris. Pada awalnya, kelompok punk selalu dikacaukan oleh golongan skinhaed. Namun, sejak tahun 1980-an, saat punk merajalela di Amerika, golongan punk dan skinhead seolah-olah menyatu, karena mempunyai semangat yang sama. Punk juga bisa berarti ideologi hidup yang mencakup aspek sosial dan politik. Kegagalan Reaganomic dan Di Indonesia, istilah anarki, anarkis atau anarkisme digunakan oleh media massa untuk menyatakan suatu tindakan perusakan, perkelahian atau kekerasan massal. Kaum punk memaknai anarkisme tidak hanya sebatas pengertian politik semata. Dalam keseharian hidup, anarkisme berarti tanpa aturan pengekang, baik dari masyarakat maupun perusahaan rekaman, karena mereka bisa menciptakan sendiri aturan hidup dan perusahaan rekaman sesuai keinginan mereka. Punk etik semacam inilah yang lazim disebut DIY (do it yourself/lakukan sendiri).

3. METODE YANG DIGUNAKAN

Penelitian kualitatif menggabungkan wawancara, kelompok fokus, dan peserta observasi untuk memahami informasi praktek pencarian peserta di New Brunswick scene musik bawah tanah. Pengumpulan data akan berada dalam konteks kehidupan sehari-hari mencari informasi perilaku.

4. BAGAIMANA DIUJIKANNYA

Dengan berpartisipasi dalam lingkungan penelitian alam, peneliti tim dapat mengembangkan pemahaman yang diam-diam tindakan sehari-hari yang dapat luput atau “faktor-out” di lingkungan  laboratorium. Semua anggota tim penelitian adalah musisi dan peserta non-mainstream subkultur, dan ini pemahaman diam-diam dari fenomena akan membantu untuk mengekspos beberapa realitas dalam setting penelitian. Dengan berpartisipasi dalam kegiatan sehari-hari dari masyarakat, observasi partisipan memungkinkan peneliti untuk melihat dan lebih memahami kompleksitas yang mendasari dari beraneka segi situasi.

5. HASIL

Sebagian besar keputusan politik di dunia saat ini adalah produk dari proses pengambilan keputusan kolektif. Hitler dan Stalin- pemimpin yang memiliki otoritas pribadi seperti besar yang mereka brutal bisa memaksakan pandangan mereka pada arakat eksentrik seluruh- ies-relatif jarang. The karakteristik ter dari proses pengambilan keputusan kolektif sangat bisa membentuk kebijakan publik. Sebagai hasil dari interaksi kelompok, orang mungkin mengadopsi lebih ekstrim atau lebih moderat daripada kebijakan akan sebagai individu, mereka mungkin menjadi lebih atau kurang mandiri kritis dan menghargai kebutuhan untuk kerajinan rencana darurat, dan mereka mungkin menjadi lebih atau kurang menyadari trade-off dan kebutuhan untuk merevisi prasangka dalam menanggapi bukti baru.

Model groupthink berpendapat bahwa tekanan untuk seragam-mity dan loyalitas dapat membangun dalam kelompok ke titik di mana mereka secara serius mengganggu efisiensi baik kognitif dan moral penghakiman. Anggota kelompok yang selalu termotivasi untuk menjaga saling menghormati satu sama lain dan merasa dihambat tentang criticiz-ing satu sama lain dan mengekspresikan perbedaan pendapat. Kelompok anggota terisolasi dari luar yang berkualitas dan tidak memiliki prosedur sistematis untuk mencari dan mengevaluasi bukti baru. Para pengambil keputusan mulai percaya bahwa kelompok tidak bisa gagal-sebuah keyakinan yang mendorong optimisme yang berlebihan mengambil resiko. Anggota kelompok diskon peringatan con- berkenaan solusi yang diinginkan dan menolak untuk pertanyaan baik kebenaran yang melekat kelompok atau immor melekat-ality musuh. Anggota grup diri disensor pribadi keraguan, menumbuhkan ilusi kebulatan suara. kontras groupthink keputusan ini dengan dua contoh-contoh pengambilan keputusan waspada: Marshall Plan dan Krisis Rudal Kuba. Dalam kedua kasus, keputusan-keputusan kelompok memberi prioritas tinggi untuk membahas penilaian dan terbuka kritis sion pilihan. Kebijakan yang dikembangkan dalam kelompok-kelompok ini berdasarkan analisis yang cermat kemungkinan konsekuensi dari banyak pilihan, dengan upaya yang sering di mengusulkan solusi baru tions yang memaksimalkan keuntungan dan meminimalkan disad-vantages pilihan yang sudah dianalisa.Kritik telah mengangkat empat keberatan luas: (a) kelemahan-kelemahan studi kasus metode untuk menguji hipotesis (risiko selective perhatian bukti dan godaan-histor tofitmessyical fakta ke dalam kategori teoritis rapi), (b) curiga korelasi yang sempurna antara kesehatan proses dan kebaikan dari hasil (risiko kepastian belakang), (c) semua-atau-tidak ada penempatan pengambilan keputusan episode kegroupthink dan waspada kategori (risiko mengecilkan differences dalam klasifikasi dan membesar-besarkan perbedaan antara klasifikasi), dan misspecification (d) konseptual model (menantang causalflowfrom dua anteced- ent kondisi-kelompok kekompakan dan situasi provokatif -Untuk persetujuan mencari).

Penelitian laboratorium telah menguji aspek groupthink teori dengan faktorial memanipulasi kondisi yg di kunci dan kemudian mengamati pengaruhnya terhadap interaksi sosial dan keputusan misalnya, menemukan bahwa “terbuka gaya kepemimpinan” yang mendorong-usia pertukaran bebas ide mengarah kelompok untuk menyarankan lebih solusi dan untuk menggunakan informasi lebih dari melakukan “tertutup-leadership gaya. “adalah menemukan ini kompatibel dengan hipotesis tentang directiveness pemimpin. teori Janis’s, groupthink pengambil keputusan lebih sederhana dari keputusan waspada pembuat dalam diskusi masalah kebijakan dan dibuat lebih positif referensi untuk simbol dalam kelompok teori, keputusan Janis’s groupthink pembuat tidak membuat referensi lebih negatif untuk keluar-kelompok simbol (Komunis negara bagian).

Sebuah metode yang ideal kelompok kepemimpinan akan menilai com- tunas kekayaan dengan ketelitian (Snyder, 1985) dengan memungkinkan penyidik\ untuk (a) menilai berbagai atribut fungsi kelompok; (b) menjelaskan dinamika kelompok di kompleks, bernuansa, dan idiograph- turun tajam sensitif cara; dan (c) membuat sistematis com, kuantitatif- parisons di penilaian analis yang berbeda yang sama  kelompok, di penilaian dari kelompok yang sama pada waktu yang berbeda, dan seluruh penilaian dari kelompok yang berbeda. Studi kasus memuaskan yang 2 pertama kriteria tetapi gagal untuk lulus ketiga. Berbeda kembali pencari menekankan aspek yang berbeda dari fungsi kelompok dan menggunakan terminologi yang berbeda untuk menggambarkan apa yang mereka pikir terjadi.

PENUTUP

KESIMPULAN

Kelompok sosial adalah kumpulan orang yang memiliki kesadaran bersama akan keanggotaan dan saling berinteraksi. Kelompok diciptakan oleh anggota masyarakat. Kelompok juga dapat mempengaruhi perilaku para anggotanya.

Pandangan tradisional menganggap bahwa konflik dapat dihindari. Hal ini disebabkan konflik dapat mengacaukan organisasi dan mencegah pencapaian tujuan yang optimal. Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan yang optimal, konflik harus dihilangkan. Konflik biasanya disebabkan oleh kesalahan manajer dalam merancang dan memimpin organisasi. Dikarenakan kesalahan ini, manajer sebagai pihak manajemen bertugas meminimalisasikan konflik. Konflik terjadi karena adanya interaksi yang disebut komunikasi. Hal ini dimaksudkan apabila kita ingin mengetahui konflik berarti kita harus mengetahui kemampuan dan perilaku komunikasi. Semua konflik mengandung komunikasi, tapi tidak semua konflik berakar pada komunikasi yang buruk. Sosialisasi adalah sebuah proses penanaman atau transfer kebiasaan atau nilai dan aturan dari satu generasi ke generasi lainnya dalam sebuah kelompok atau masyarakat. Sejumlah sosiolog menyebut sosialisasi sebagai teori mengenai peranan (role theory). Karena dalam proses sosialisasi diajarkan peran-peran yang harus dijalankan oleh individu.

DAFTAR PUSTAKA

Forsyth, R. Donelson. (1983). An Introduction to Group Dynamics. Brooks/Cole

Publishing Company : Monterey, California

(Sumber: Wikipedia, 12MANAGE, The Team Building Company)

http://eprints.undip.ac.id/11099/1/buat_jurnal_sukma.pdf

http://file.upi.edu/Direktori/B%20-%20FPIPS/M%20K%20D%20U/196801141992032%20-%20WILODATI/jurnal%20SISTEM%20SOSBUD%20BADUY.pdf

http://www.bvsde.paho.org/bvsacd/cd53/ijchp-93.pdf

http://www.ideals.illinois.edu/bitstream/handle/2142/15022/ischool10_sanchez_final.pdf?sequence=2

Disusun Oleh :

Devi Anggraeni                  10508054

Fristy Hanifia Sabilla        10508088

Putri Ratu Komala Sari    10508177

Tiara Nazwita Amin           10508224

Nur Ikhwan Mullia          10508264

Kelas : 3 PA 06

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s