Kepadatan dan Kesesakan

Kepadatan dan Kesesakan

KEPADATAN

A. Pengertian Kepadatan

Kepadatan atau density ternyata mendapat perhatian yang serius dari para ahli psikologi lingkungan. Menurut Sundstrom, kepadatan adalah sejumlah manusia dalam setiap unit ruangan (dalam Wrightsman & Deaux, 1981). Atau sejumlah individu yang berada di suatu ruang atau wilayah tertentu dan lebih bersifat fisik (Holahan, 1982; Heimstradan McFarling, 1978; Stokols dalam Schmidt dan Keating, 1978). Suatu keadaan akan dikatakan semakin padat bila jumlah manusia pada suatu batas ruang tertentu semakin banyak dibandingkan dengan luas ruangannya (Sarwono, 1992).

Penelitian tentang kepadatan pada manusia berawal dari penelitian terhadap hewan yang dilakukan oleh John Calhoun. Penelitian Calhoun ini bertujuan untuk mengetahui dampak negatif kepadatan dengan menggunakan hewan percobaan tikus. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya perilaku kanibal pada hewan tikus seiring dengan bertambahnya jumlah tikus (dalamWorchel dan Cooper, 1983). Secara terinci hasil penelitian Calhoun (dalam Setiadi, 1991) menunjukkan hal-hal sebagai berikut:

Pertama, dalam jumlah yang tidak padat (kepadatan rendah), kondisi fisik dan perilaku tikus berjalan normal. Tikus-tikus tersebut dapat melaksanakan perkawinan, membuat sarang, melahirkan, dan membesarkan anaknya seperti halnya kehidupan alamiah.

Kedua, dalam kondisi kepadatan tinggi dengan pertumbuhan populasi yang tak terkendali, ternyata memberikan dampak negatif terhadap tikus-tikus tersebut. Terjadi penurunan fisik pada ginjal, otak, hati, dan jaringan kelenjar, serta penyimpangan perilaku seperti hiperaktif, homoseksual, dan kanibal. Akibat keseluruhan dampak negatif tersebut menyebabkan penurunan kesehatan dan fertilitas, sakit, mati, dan penurunan populasi.

Penelitian terhadap manusia yang pernah dilakukan oleh Bell (dalam Setiadi, 1991) mencoba memerinci: bagaimana manusia merasakan dan bereaksi terhadap kepadatan yang terjadi; bagaimana dampaknya terhadap tingkah laku sosial; dan bagaimana dampaknya terhadap task performance (kinerja tugas)? Hasilnya memperlihatkan ternyata banyak hal-hal yang negatif akibat dari kepadatan.

Pertama, ketidaknyamanan dan kecemasan, peningkatan denyut jantung dan tekanan darah, hingga terjadi penurunan kesehatan atau peningkatan pada kelompok manusia tertentu.

Kedua, peningkatan agresivitas pada anak-anak dan orang dewasa (mengikuti kurva linear) atau menjadi sangat menurun (berdiam diri/murung) bila kepadatan tinggi sekali (high spatial density). Juga kehilangan minat berkomunikasi, kerjasama, dan tolong-rnenolong sesama anggota kelompok.

Ketiga, terjadi penurunan ketekuuan dalam pemecahan persoalan atau pekerjaan. Juga penurunan hasil kerja terutama pada pekerjaan yang menuntut hasil kerja yang kompleks.

Dalam penelitian tersebut diketahui pula bahwa dampak negatif kepadatan lebih berpengaruh terhadap pria atau dapat dikatakan bahwa pria lebih memiliki perasaan negative. pada kepadatan tinggi bila dibandingkan wanita. Pria juga bereaksi lebih negatif terhadap anggota kelompok, baik pada kepadatan tinggi ataupun rendah dan wanita justru lebih menyukai anggota kelompoknya pada kepadatan tinggi.

B. Kategori Kepadatan

Menurut Altman (1975), di dalam studi sosiologi sejak tahun 1920-an, variasi indikator kepadatan berhubungan dengan tingkah laku sosial. Variasi indikator kepadatan itu meliputi :

  • Jumlah individu dalam sebuah kota
  • Jumlah individu pada daerah sensus
  • Jumlah individu pada unit tempat tinggal
  • Jumlah ruangan pada unit tempat tinggal
  • Jumlah bangunan pada lingkungan sekitar dan lain-lain.

Sedangkan Jain (1987) berpendapat bahwa tingkat kepadatan penduduk akan dipengaruhi oleh unsur-unsur yaitu :

  • Jumlah individu pada setiap ruang
  • Jumlah ruang pada setiap unit rumah tinggal
  • Jumlah unit rumah tinggal pada setiap struktur hunian
  • Jumlah struktur hunian pada setiap wilayah pemukiman.

Kepadatan dapat dibedakan ke dalam beberapa kategori. Holahan (1982) menggolongkan kepadatan ke dalam dua kategori, yaitu :

  • Kepadatan spasial (spatial density) yang terjadi bila besar atau luas ruangan diubah menjadi lebih kecil atau sempit sedangkan jumlah individu tetap, sehingga didapatkan kepadatan meningkat sejalan menurunnya besar ruang.
  • Kepadatan sosial (social density) yang terjadi bila jumlah individu ditambah tanpa diiringi dengan penambahan besar atau luas ruangan sehingga didapatkan kepadatan meningkat sejalan dengan bertambahnya individu.

Sedangkan Altman (1975) membagi kepadatan menjadi :

  • Kepadatan dalam (inside density) yaitu sejumlah individu yang berada dalam suatu ruang atau tempat tinggal seperti kepadatan di dalam rumah, kamar.
  • Kepadatan luar (outside density) yaitu sejumlah individu yang berada pada suatu wilayah tertentu, seperti jumlah penduduk yang bermukim di suatu wilayah pemukiman.

Jain (1987) menyatakan bahwa setiap wilayah pemukiman memiliki tingkat kepadatan yang berbeda dengan jumlah unit rumah tinggal pada setiap struktur hunian dan struktur hunian pada setiap wilayah pemukiman. Sehingga suatu wilayah pemukiman dapat dikatakan mempunyai kepadatan tinggi atau kepadatan rendah.

Zlutnick dan Altman (dalam Altman, 1975; Holahan, 1982) menggambarkan sebuah model dua dimensi untuk menunjukkan beberapa macam tipe lingkungan pemukiman, yaitu:

  1. Lingkungan pinggiran kota, yang ditandai dengan tingkat kepadatan luar dan kepadatan dalam yang rendah.
  2. Wilayah desa miskin di mana kepadatan dalam tinggi sedangkan kepadatan luar rendah.
  3. Lingkungan Mewah Perkotaan, di mana kepadatan dalam rendah sedangkan kepadatan luar tinggi.
  4. Perkampungan Kota yang ditandai dengan tingkat kepadatan luar dan kepadatan dalam yang tinggi.

 

 

 

 

 

 

C. Akibat-akibat Kepadatan Tinggi

Rumah dan lingkungan pemukiman akan memberi pengaruh psikologis pada individu yang menempatinya. Taylor (dalam Gifford, 1982) berpendapat bahwa lingkungan sekitar dapat merupakan sumber yang penting dalam mempengaruhi sikap, perilaku dan keadaan internal individu di suatu tempat tinggal, Rumah dan lingkungan pemukiman yang memiliki situasi dan kondisi yang baik dan nyaman seperti memiliki ruang yang cukup untuk kegiatan pribadi akan memberikan kepuasan psikis pada individu yang menempatinya. Schorr (dalam ittelson, 1974) mempercayai bahwa macam dan kualitas pemukiman dapat memberikan pengaruh penting terhadap persepsi diri penghuninya, stres dan kesehatan fisik, sehingga kondisi pemukiman ini tampaknya berpengaruh pada perilaku dan sikap-sikap orang yang tinggal di sana (lttelson, 1974).

Penelitian Valins dan Baum (dalam Heimstra dan McFarling, 1978) menunjukkan adanya hubungan yang erat antara kepadatan dengan interaksi sosial. Para mahasiswa yang bertempat tinggal di asrama yang padat sengaja mencari dan memilih tempat duduk yang jauh dari orang lain, tidak berbicara dengan orang lain yang berada di tempat yang sama. Dengan kata lain mahasiswa yang tinggal di tempat padat cenderung untuk menghindari kontak sosial dengan orang lain.

Penelitian yang diadakan oleh Karlin dkk, (dalam Sears dkk., 1994) mencoba membandingkan mahasiswa yang tinggal berdua dalam satu kamar dengan mahasiswa yang tinggal bertiga dalam dalam satu kamar. Kesemuanya itu tinggal dalam kamar yang dirancang untuk dua orang. Temyata mahasiswa yang tinggal bertiga melaporkan adanya stres dan kekecewaan yang secara nyata lebih besar dari pada mahasiswa yang tinggal berdua. Selain itu mereka yang tinggal bertiga juga lebih rendah prestasi belajamya. Pengaruh ini ternyata lebih berat dihadapi pada mahasiswi yang lebih banyak mengubah lingkungan untuk menyesuaikan diri, sebaliknya pada mahasiswa pada umumnya lebih banyak mengubah perilaku untuk menyesuaikan diri. Para mahasiswi berusaha membuat bagian ruang yang sudah sempit tersebut agar dapat menjadi ruang yang menyenangkan, sementara para mahasiswa lebih banyak menggunakan waktunya di luar.

Penelitian terhadap kehidupan dalam penjara juga membuktikan tentang pengaruh kepadatan tempat tinggal. Penelitian D’Atri dan McCain (dalam Sears dkk., 1994) membuktikan bahwa narapidana yang ditempatkan seorang diri di dalam sel ternyata memiliki tekanan darah yang lebih rendah bila dibandingkan dengan narapidana yang tinggal dalam penjara tipe asrama.

Rumah dengan luas lantai yang sempit dan terbatas apabila dihuni oleh sejumlah besar individu umumnya akan menimbulkan pengaruh negatif pada penghuninya (Jain, 1987). Hal ini terjadi karena dalarn rumah tinggal yang terbatas umumnya individu tidak memiliki ruang atau tempat yang dapat dipakai untuk kegiatan pribadi. Keterbatasan ruang memungkinkan individu sering harus bertemu dan berhubungan dengan orang lain baik secara fisik maupun verbal, sehingga individu memperoleh masukan yang berlebihan. Keadaan tersebut dapat menyebabkan individu merasa tidak mampu rnengolah dan mengatur masukan yang diterima. Individu menjadi terhambat untuk memperoleh apa yang diinginkannya. Keadaan tersebut pada akhimya menimbulkan perasaan sesak pada individu penghuni rumah tinggal tersebut.

Menurut Heimstra dan McFarling (1978) kepadatan memberikan akibat bagi manusia baik secara fisik, sosial maupun psikis.

  • Akibat secara fisik yaitu reaksi fisik yang dirasakan individu seperti peningkatan detak jantung, tekanan darah, dan penyakit fisik lain (Heimstra dan Mefarling, 1978).
  • Akibat secara sosial antara lain adanya masalah sosial yang terjadi dalam masyarakat seperti meningkatnya kriminalitas dan kenakalan remaja (Heimstra dan McFarling, 1978; Gifford, 1987).
  • Akibat secara psikis antara lain:
  1. Stres, kepadatan tinggi dapat menumbuhkan perasaan negatif, rasa cemas, stres (Jain, 1987) dan perubahan suasana hati (Holahan, 1982).
  2. Menarik diri, kepadatan tinggi menyebabkan individu cenderung untuk menarik diri dan kurang mau berinteraksi dengan lingkungan sosialnya (Heimstra dan McFarling, 1978; Holahan, 1982; Gifford, 1987).
  3. Perilaku menolong (perilaku prososial), kepadatan tinggi juga menurunkan keinginan individu untuk menolong atau memberi bantuan pada orang lain yang membutuhkan, terutama orang yang tidak dikenal (Holahan 1982; Fisher dkk., 1984).
  4. Kemampuan mengerjakan tugas, situasi padat menurunkan kemampuan individu untuk mengerjakan tugas-tugasnya pada saat tertentu (Holahan, 1982).
  5. Perilaku agresi, situasi padat yang dialami individu dapat menumbuhkan frustrasi dan kemarahan, serta pada akhimya akan terbentuk perilaku agresi (Heimstra dan McFarling, 1978; Holahan, 1982).

Di pemukiman padat, individu umumnya akan dihadapkan pada keadaan yang tidak menyenangkan. Di samping keterbatasan ruang, individu juga mengalarni kehidupan sosial yang lebih rumit. Keadaan padat ini memungkinkan individu tidak ingin mengetahui kebutuhan individu lain di sekitamya tetapi lebih memperhatikan hal-hal yang berhubungan dengan kepentingannya serta kurang memperhatikan isyarat-isyarat sosial yang muncul. Salah satu akibat negatif yang terjadi sebagai respon individu terhadap stresor lingkungan seperti lingkungan padat yaitu menurunnya intensi prososial individu.

Penelitian-penelitian tentang hubungan kepadatan dan perilaku prososial di daerah perkotaan dan pedesaan telah banyak dilakukan. Hasil penelitian yang dilakukan Milgram (1970) ditemukan bahwa orang yang tinggal di kota sedikit dalam memberi bantuan dan informasi bagi orang yang tidak dikenal dari pada orang yang tinggal di daerah pedesaan. Begitu pula dalam mengizinkan untuk menggunakan telepon bagi orang lain yang memerlukan (Fisher, 1984).

Adapun proses tersebut dapat menunjukkan bahwa kepadatan mempunyai hubungan terhadap perilaku prososial seseorang. Hal ini dapat dijelaskan oleh teori beban stimulus dari Milgram (dalam Wrightsman & Deaux, 1984). Dalam teori ini menjelaskan bahwa kondisi kota yang padat yang dipengaruhi oleh bermacam-macam faktor seperti faktor perbedaan individu, situasi dan kondisi sosial di kota mengakibatkan individu mengalami stimulus overload (stimulus yang berlebihan), sehingga individu harus melakukan adaptasi dengan cara memilih stimulus-stimulus yang akan diterima, memberi sedikit perhatian terhadap stimulus yang masuk. Hal ini dilakukan dengan menarik diri atau mengurangi kontak dengan orang lain, yang akhimya dapat mempengaruhi perilaku menolong pada individu. Proses tersebut diatas dapat digambarkan dengan skema sebagai berikut :

 

 

 

 

 

 

KESESAKAN

A. Pengertian Kesesakan

Menurut Altman (1975), kesesakan adalah suatu proses interpersonal pada suatu tingkatan interaksi manusia satu dengan lainnya dalam suatu pasangan atau kelompok kecil, Perbedaan pengertian antara crowding (kesesakan) dengan density (kepadatan) sebagaimana yang telah dibahas terdahulu tidaklah jelas benar, bahkan kadang-kadang keduanya memiliki pengertian yang sama dalam merefleksikan pemikiran secara fisik dari sejumlah manusia dalam suatu kesatuan ruang.

Menurut Altman (1975), Heimstra dan McFarling (1978) antara kepadatan dan kesesakan memiliki hubungan yang erat karena kepadatan merupakan salah satu syarat yang dapat menimbulkan kesesakan, tetapi bukan satu-satunya syarat yang dapat menimbulkan kesesakan. Kepadatan yang tinggi dapat mengakibatkan kesesakan pada individu (Heimstra dan McFarling, 1978; Holahan, 1982).

Baum dan Paulus (1987) menerangkan bahwa proses kepadatan dapat dirasakan sebagai kesesakan atau tidak dapat ditentukan oleh penilaian individu berdasarkan empat faktor:

  • Karakteristik seting fisik
  • Karakteristik seting sosial
  • Karakteristik personal
  • Kemampuan beradaptasi

Stokols (dalam Altman, 1975) membedakan antara kesesakan bukan sosial dan kesesakan sosial :

  • Kesesakan bukan sosial (nonsocial crowding) yaitu di mana faktor-faktor fisik menghasilkan perasaan terhadap ruang yang tidak sebanding, seperti sebuah ruang yang sempit.
  • Kesesakan sosial (social crowding) yaitu perasaan sesak mula-mula datang dari kehadiran orang lain yang terlalu banyak.

Stokols juga menambahkan perbedaan antara kesesakan molekuler dan molar

  • Kesesakan molar (molar crowding) yaitu perasaan sesak yang dapat dihubungkan dengan skala luas, populasi penduduk kota, sedangkan
  • Kesesakan molekuler (moleculer crowding) yaitu perasaan sesak yang menganalisis mengenai individu, kelompok keeil dan kejadian-kejadian interpersonal.

Morris (dalam Iskandar, 1990) memberi pengertian kesesakan sebagai defisit suatu ruangan. Hal ini berarti bahwa dengan adanya sejumlah orang dalam suatu hunian rumah, maka ukuran per meter persegi setiap orangnya menjadi kecil, sehingga dirasakan adanya kekurangan ruang. Dalam suatu unit hunian, kepadatan ruang harus diperhitungkan dengan mebel dan peralatan yang diperlukan untuk suatu aktivitas. Oleh karenanya untuk setiap ruang akan memerlukan suatu ukuran standar ruang yang berbeda, karena fungsi dari ruang itu berbeda.

Besar kecilnya ukuran rumah menentukan besarnya rasio antara penghuni dan tempat (space) yang tersedia. Makin besar rumah dan makin sedikit penghuninya, maka akan semakin besar rasio tersebut. Sebaliknya, makin kecil rurnah dan makin banyak penghuninya, maka akan semakin kecil rasio tersebut, sehingga akan timbul perasaan sesak (crowding) (Ancok, 1989).

Adapun kesesakan dikatakan sebagai keadaan motivasional yang merupakan interaksi dari faktor spasial, sosial dan personal, dimana pengertiannya adalah persepsi individu terhadap keterbatasan ruang sehingga timbul kebutuhan akan ruang yang lebih luas. Jadi rangsangan berupa hal-hal yang berkaitan dengan keterbatasan ruang di sini kemudian diartikan sebagai suatu kekurangan.

Pendapat lain datang dari Rapoport (dalam Stokols dan Altman, 1987) yang mengatakan kesesakan adalah suatu evaluasi subjektif dimana besarnya ruang dirasa tidak mencukupi, sebagai kelanjutan dari persepsi langsung terhadap ruang yang tersedia.

Kesimpulan yang dapat diambil adalah pada dasamya batasan kesesakan melibatkan persepsi seseorang terhadap keadaan ruang yang dikaitkan dengan kehadiran sejumlah manusia, dimana ruang yang tersedia dirasa terbatas atau jumlah manusianya yang dirasa terIalu banyak.

B. Teori-teori Kesesakan

Untuk menerangkan terjadinya kesesakan dapat digunakan tiga.model teori, yaitu beban stimulus, kendala perilaku dan teori ekologi (Bell dkk., 1978; Holahan, 1982).

1. Teori Beban Stimulus.

kesesakan akan terbentuk bila stimulus yang diterima individu melebihi kapasitas kognitifnya sehingga timbul kegagalan memproses stimulus atau informasi dari lingkungan. Schmidt dan Keating (1979) mengatakan bahwa stimulus di sini dapat berasal dari kehadiran banyak orang beserta aspek-aspek interaksinya, maupun kondisi-kondisi fisik dari lingkungan sekitar yang menyebabkan bertambahnya kepadatan sosial. Berlebihnya informasi dapat terjadi karena beberapa faktor, seperti :

  • Kondisi lingkungan fisik yang tidak menyenangkan
  • Jarak antar individu (dalam arti fisik) yang terlalu dekat
  • Suatu percakapan yang tidak dikehendaki
  • Terlalu banyak mitra interaksi
  • Interaksi yang terjadi dirasa terlalu dalam atau terlalu lama

Individu akan melakukan penyaringan atau pemilahan terhadap informasi yang berlebihan tersebut. Stimulus yang tidak berhubungan langsung dengan kepentingannya

akan diabaikan. Stimulus yang penting dan bermanfaat bagi dirinyalah yang akan diperhatikan (Bell dkk., 1978; Holahan, 1982).

2.   Teori Ekologi.

Micklin (dalam Holahan, 1982) mengemukakan sifat-sifat umum model ekologi pada manusia :

  1. Teori ekologi perilaku memfokuskan pada hubungan timbal batik antara orang dengan lingkungannya.
  2. Unit analisisnya adalah kelompok sosial dan bukan individu, dan organisasi sosial memegang peranan sangat penting.
  3. Menekankan pada distribusi dan penggunaan sumber-sumber material dan sosial.

Wicker (1976) mengemukakan teorinya tentang manning. Teori ini berdiri atas pandangan bahwa kesesakan tidak dapat dipisahkan dari faktor seting dimana hal itu terjadi, misalnya pertunjukan kethoprak. atau pesta ulang tahun.

Analisis terhadap seting meliputi :

  1. Maintenance Minimum, yaitu jumlah minimum manusia yang mendukung suatu seting agar suatu aktivitas dapat berlangsung. Agar pembicaraan menjadi lebih jelas, akan digunakan kasus pada sebuah rumah sebagai contoh suatu seting. Dalam hal ini, yang dinamakan maintenance setting adalah jumlah penghuni rumah minimum agar suatu ruang tidur ukuran 4 x 3 meter bisa dipakai oleh anak-anak supaya tidak terlalu sesak dan tidak terlalu longgar.
  2. Capacity, adalah jumlah maksimum penghuni yang dapat ditampung oleh seting tersebut (jumlah orang maksimum yang dapat duduk di ruang tamu bila sedang dilaksanakan hajatan).
  3. Applicant, adalah jumlah penghuni yang mengambil bagian dalam suatu seting. Applicant dalam seting rumah dapat dibagi menjadi dua, yaitu :
  • Performer, yaitu jumlah orang yang memegang peran utama, dalam hal ini suami dan isteri.
  • Non-performer, yaitu jumlah orang yang terlibat dalam peran-peran sekunder, dalam hal ini anak-anak atau orang lain dalam keluarga.

3.   Teori Kendala Perilaku.

Menurut teori ini, suatu situasi akan dianggap sesak bila kepadatan atau kondisi lain yang berhubungan dengannya membatasi aktivitas individu dalam suatu tempat. Pendekatan ini didasari oleh teori reaktansi psikologis (psychological reactance) dari Brehm (dalam Schmidt dan Keating, 1979) yang menekankan kebebasan memilih sebagai faktor pendorong penting dalam persepsi dan perilaku manusia. Ia mengatakan bahwa bila kebebasan itu terhambat, maka individu akan mengadakan suatu reaksi dengan berusaha menemukan kebebasan yang hilang tadi, yang digunakan untuk mencapai tujuannya.

C. Pengaruh Kesesakan Terhadap Perilaku

Bila suatu lingkungan berubah menjadi sesak, sumber-sumber yang ada di dalamnya pun bisa menjadi berkurang, aktivitas seseorang akan terganggu oleh aktivitas orang lain, interaksi interpersonal yang tidak diinginkan akan mengganggu individu dalam mencapai tujuan personalnya, gangguan terhadap norma tempat dapat meningkatkan gejolak dan ketidaknyamanan (Epstein, 1982) serta disorganisasi keluarga, agresi, penarikan diri secara psikologis, dan menurunnya kualitas hidup (freedman, 1973).

Pengaruh negatif kesesakan tercermin dalam bentuk penurunan-penurunan psikologis, fisiologis, dan hubungan sosial individu. Pengaruh psikologis yang ditimbulkan oleh kesesakan antara lain adalah perasaan kurang nyaman, stress, kecemasan, suasana hati yang kurang baik, prestasi kerja dan prestasi belajar menurun, agresivitas meningkat, dan bahkan juga gangguan mental yang serius.

Individu yang berada dalam kesesakan juga akan mengalami malfungsi fisiologis seperti meningkatnya tekanan darah dan detak jantung, gejala-gejala psikosomatik, dan penyakit-penyakit fisik yang serius (Worchel dan Cooper, 1983).

Perilaku sosial yang seringkali timbul karena situasi yang sesak antara lain adalah kenakalan remaja, menurunnya sikap gotong-royong dan saling membantu, penarikan diri dari lingkungan sosial,.berkembangnya sikap acuh tak acuh, dan semakin berkurangnya intensitas hubungan sosial (Holahan, 1982).

Gove dan Hughes (1983) mendapatkan adanya korelasi antara kesesakan dalam rumah tangga dengan hubungan perkawinan dan hubungan sosial dengan tetangga yang kurang harmonis, serta kurangnya perhatian terhadap anak. Ditambahkan oleh Ancok (1989), perasaan sesak (crowding) di dalam rumah akan menimbulkan beberapa permasalahan antara lain:

  1. Menurunnya frekuensi hubungan sex.
  2. Memburuknya interaksi suami isteri.
  3. Mcmburuknya cara pengasuhan anak.
  4. Memburuknya hubungan dengan orang-orang di luar rumah.
  5. Meningkatnya ketegangan dan gangguan jiwa.

Penyebab terjadinya kelima permasalahan di atas adalah karena kebutuhan ruangan yang sifatnya personal tidak terpenuhi. Hal ini menyebabkan banyak perilaku untuk memenuhi keinginan (goal directed behavior) tidak terselesaikan.

Selanjutnya oleh Ancok dijelaskan bahwa rumah yang dalam keadaan sesak akan berakibat stres pada orang tua, selanjutnya akan berakibat pada perlakuan buruk terhadap anak, sehingga anak akan merasa tidak aman. Perasaan tidak aman itu selanjutnya besar kemungkinannya berakibat pada perkembangan kepribadian yang patologis pada anak.

Pertumbuhan kecerdasan anak sangat dipengaruhi pada stimulasi mental yang dapat diperoleh anak dalam lingkungannya. Pada fase balita atau perkembangan awal, anak-anak sangat memerlukan ruangan yang dapat digunakan untuk berlari, bergerak, dan bermain. Dalam bermain, anak-anak pada hakikatnya melakukan beberapa eksperimen untuk memperkaya pengalaman pribadinya. Hasil penelitian Gump menunjukkan bahwa anak-anak yang bertempat tinggal di rumah yang sesak akan mengalami keterlambatan kemampuan membaca, sering bolos sekolah, dan mengalami ketegangan yang menyebabkan apatis hingga membuat mereka menjadi malas (dalam Ancok, 1989).

Sementara itu beberapa penelitian lain juga mencoba menunjukkan pengaruh negatif kesesakan terhadap perilaku. Fisher dan Byrne (dalam Watson dkk., 1984) menemukan bahwa kesesakan dapat mengakibatkan menurunnya kemampuan menyelesaikan tugas yang kompleks, menurunkan perilaku sosial, ketidaknyamanan dan berpengaruh negatif terhadap kesehatan dan menaikkan gejolak fisik seperti naiknya tekanan darah (Evans, 1979).

Walaupun pada umumnya kesesakan berakibat negatif pada perilaku seseorang, tetapi menurut  Altman (1975) dan Watson dkk.(1984), kesesakan kadang memberikan kepuasan dan kesenangan. Hal ini tergantung pada tingkat privasi yang diinginkan, waktu dan situasi tertentu, serta seting kejadian, Situasi yang memberikan kepuasan dan kesenangan bisa kita temukan, misalnya pada waktu melihat pertunjukan musik, pertandingan olah raga atau menghadiri reuni atau resepsi.

Artikel yang berhubungan dengan dampak kesesakan dan kepadatan penduduk, khususnya di lingkungan tempat tinggal terhadap perilaku individu.

“Bentrokan Antarpemuda di Tanahtinggi”

 

 

 

 

 

 

 

Joharbaru, Warta Kota

BENTROKAN antarpemuda yang terjadi di Kelurahan Tanahtinggi, Joharbaru, Jakarta Pusat, Minggu (26/9) tengah malam, bukan baru kali ini terjadi. Tawuran sudah menjadi bagian dari keseharian warga salah satu kawasan permukiman padat dan kumuh di Jakarta Pusat tersebut, sebagaimana diungkapkan Ketua RW 12 Samsudin.

Menurut Samsudin, bentrokan terjadi di Jalan Tanah Tinggi 12 dan melibatkan pemuda dari RT 13 RW 7 dan RW 6,8, serta 12. “Saya sendiri nggak tahu penyebab pastinya apa dan dari kelompok mana yang memulai duluan. Tetapi biasanya karena masalah sepele seperti salah paham saat futsal atau saling ejek saja,” katanya.

Samsudin menambahkan bahwa kerapnya terjadi bentrokan bisa jadi lantaran tingkat pendidikan warga yang rendah dan masalah ekonomi. Pasalnya, orangtua dari kalangan miskin sibuk mencari nafkah sehingga tidak sempat memberikan pendidikan kepada anak-anaknya yang banyak berkeliaran di malam hari. Apalagi kondisi rumah umumnya hanya berukuran sekitar 3 meter x 4 meter dan didiami dua keluarga.

Samsudin berharap masalah bentrokan itu ditangani langsung oleh polisi, camat, lurah, dan wali kota dengan langsung turun menyentuh tingkat sosial masyarakat terendah. Selama ini yang didekati hanyalah RT dan RW serta kelurahan, namun pemuda dan ABG tidak disentuh. “Jadi seharusnya dilakukan pendekatan sosiologis. Ajak pemuda dan ABG di sini untuk berorganisasi atau adakan kegiatan bersama. Jadi mereka merasa terlibat dalam satu kelompok. Sehingga saling mengenal,” terangnya.

Selain itu, kata Samsudin, diharapkan polisi meningkatkan razia di malam hari, seperti razia senjata tajam atau yang lainnnya sehingga membuat segan para pemuda dan ABG untuk nongkrong di pinggir jalan. “Jangan cuma mendekati pemimpin di tingkat struktural saja, tapi turun langsung ke masyarakat,” tutur Samsudin. Kelurahan Tanahtinggi seluas 62,40 ha tergolong wilayah padat dengan jumlah penduduk sekitar 38.000 jiwa.

Pengajar Antropologi Perkotaan dari Universitas Indonesia, Rusli Cahyadi, mengatakan, konflik di wilayah permukiman padat dan kumuh kerap melibatkan banyak pihak dan kepentingan. Untuk mengatasi itu, aparat wilayah harus bisa memetakan para pemangku kepentingan yang kemungkinan memiliki motif ekonomi dan politik di wilayah tersebut.

“Bandar narkoba misalnya, selalu punya kepentingan untuk memicu konflik. Karena itu dengan pendekatan motif politik-ekonomi pada berbagai tingkatan di masyarakat, dapat dicapai solusi yang tepat. Untuk jangka pendek, polisi dan bila perlu tentara turun tangan menangani para pemangku kepentingan yang terlibat,” tuturnya.

Rusli juga melihat Operasi Yustisi yang digelar Pemprov DKI tepat bila diterapkan di kantong permukiman padat penduduk seperti Tanahtinggi untuk merapikan sistem administrasi wilayah.

Tawuran kemarin terjadi hampir sepanjang malam dan baru dapat dihentikan polisi dari Polsektro Joharbaru dan Porestro Jakarta Pusat sekitar pukul 03.00.

Solusi penanganan konflik Tanah Tinggi

  • Pemetaan sosial-politik-ekonomi wilayah setempat
  • Tetapkan siapa saja pemangku kepentingan yang berpotensi memicu konflik
  • Pembenahan sistem administrasi kependudukan wilayah
  • Perbanyak kegiatan yang melibatkan unsur pemuda setempat
  • Optimalisasi peran RT-RW dan tokoh masyarakat dengan insentif yang layak
  • Penegakan hukum yang tegas terhadap pengedar narkoba dan pemicu konflik

sumber :

Prabowo, Hendro. 1998. Arsitektur, Psikologi dan Masyarakat. Jakarta : penerbit Gunadarma.
http://www.wartakota.co.id/detil/berita/30632/Bentrokan-Antarpemuda-di-Tanahtinggi

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s